Berita
Ini Cara Membedakan HFMD dan Varicella pada Anak

Latar Belakang
Hand, foot, and mouth disease (HFMD) tengah mengalami peningkatan kasus yang signifikan di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Penyakit ini umumnya menyerang anak di bawah usia 7 tahun dan sering menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua maupun tenaga medis, sebagian besar karena gambaran klinis eksantemnya yang dapat menyerupai varicella. Kedua entitas penyakit ini dapat muncul dengan ruam vesikular pada anak usia yang serupa, sehingga menjadi tantangan diagnostik yang nyata dalam praktik klinis sehari-hari. (1,2)
Pembedaan yang tepat antara HFMD dan varicella memiliki dampaki langsung terhadap tata laksana pasien. Varicella yang tidak teridentifikasi dapat luput dari terapi antiviral yang diperlukan pada kelompok risiko tinggi, sementara HFMD yang salah didiagnosis sebagai varicella berpotensi menyebabkan pemberian antiviral yang tidak perlu beserta risiko efek samping yang menyertainya. Pemahaman mendalam mengenai perbedaan etiologi, patofisiologi, gambaran klinis, pemeriksaan penunjang, serta tata laksana kedua penyakit ini menjadi kompetensi esensial bagi setiap dokter anak.
Etiologi dan Patofisiologi
Varicella disebabkan oleh varicella-zoster virus (VZV), suatu virus herpes dengan distribusi global yang bersifat sangat menular dan ditransmisikan melalui inhalasi droplet aerosol. Setelah infeksi primer pada mukosa saluran napas atas, virus memasuki sirkulasi dan menimbulkan viremia dalam dua gelombang—pertama pada hari ke-2 hingga ke-6, dan gelombang berikutnya pada hari ke-10 hingga ke-12—yang bertepatan dengan munculnya lesi kulit karakteristik. (1) Setelah infeksi primer, VZV mengalami latensi di ganglion sensorik dan dapat reaktivasi di kemudian hari sebagai herpes zoster.
Sebaliknya, HFMD disebabkan oleh virus dari famili Picornaviridae, terutama coxsackievirus A16 dan enterovirus A71, dengan coxsackievirus A6 yang kini semakin banyak dilaporkan sebagai penyebab di berbagai negara. (2) Transmisi terjadi melalui ingesti virus yang diekskresi dari saluran gastrointestinal atau saluran napas atas pejamu yang terinfeksi, maupun melalui cairan vesikel atau sekret oral. Setelah ingesti, virus bereplikasi di usus bagian bawah dan jaringan limfoid faring, kemudian menyebar ke kelenjar limfe regional dan berpotensi menjangkau berbagai organ, termasuk sistem saraf pusat, jantung, hati, dan kulit. (2)
Kemiripan dan Perbedaan Klinis
Baik HFMD maupun varicella dapat muncul dengan gejala prodromal berupa demam ringan, malaise, dan penurunan nafsu makan, yang kemudian diikuti oleh munculnya ruam vesikular. Kelompok usia yang rentan pun serupa, yaitu anak-anak usia prasekolah hingga sekolah dasar. Di sinilah kesamaan keduanya berakhir.
Pada varicella, lesi kulit dimulai dari area sentral—dada, punggung, dan wajah—lalu menyebar ke perifer. Lesi bersifat sangat pruritus dan memperlihatkan gambaran pleomorfik yang khas, di mana berbagai stadium lesi (makula, papula, vesikel, dan krusta) dapat ditemukan secara bersamaan pada satu waktu. (1) Masa inkubasi varicella berkisar 10 hingga 21 hari, dan pasien dapat menularkan penyakit sejak 1–2 hari sebelum ruam muncul hingga semua lesi mengalami krustas.
Pada HFMD, distribusi lesi khas berupa eksantem di telapak tangan, telapak kaki, dan bokong, disertai enanthem berupa ulkus superfisial di mukosa buccal, lidah, dan palatum yang sering menjadi keluhan utama akibat nyeri menelan. Lesi HFMD berukuran 2–6 mm, tidak gatal (non-pruritic), dan tidak meninggalkan jaringan parut. (2) Masa inkubasi HFMD lebih singkat, yakni 3–6 hari, dengan periode paling infeksius pada minggu pertama sakit. Tidak adanya rasa gatal dan distribusi lesi yang terlokalisir di akral serta rongga mulut menjadi pembeda klinis utama yang perlu diperhatikan.
Komplikasi
Komplikasi varicella yang paling umum adalah infeksi bakteri sekunder pada lesi kulit. Komplikasi yang lebih berat meliputi pneumonia, ensefalitis, dan serebelitis. (1) Kelompok risiko tinggi mencakup pasien imunokompromais, pasien yang mendapat terapi steroid dosis tinggi (setara ≥1–2 mg/kgBB/hari prednisolon selama ≥2 minggu), neonatus, dan wanita hamil.
Komplikasi HFMD, khususnya yang disebabkan oleh enterovirus A71, berpotensi lebih serius dari yang diperkirakan. Penyakit ini dapat melibatkan sistem saraf pusat dalam bentuk meningitis aseptik, ensefalitis, sindrom polio-like, mielitis transversa akut, sindrom Guillain-Barré, dan ataksia serebelar akut. (2) Komplikasi kardiovaskular juga pernah dilaporkan. Oleh karenanya, dokter anak perlu tetap waspada terhadap tanda-tanda keterlibatan neurologis pada pasien HFMD, khususnya yang disebabkan oleh enterovirus A71.
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis kedua penyakit ini pada umumnya ditegakkan secara klinis. Namun, pada kasus atipik atau berat, pemeriksaan penunjang menjadi sangat bermanfaat. Untuk varicella, konfirmasi dapat dilakukan melalui polymerase chain reaction (PCR) cairan vesikel atau krusta, serta pemeriksaan serologi untuk menilai status imunitas. (1) Pemeriksaan direct fluorescent antibody (DFA) dan kultur virus juga tersedia, meski lebih jarang digunakan.
Untuk HFMD, diagnosis laboratorium dapat ditegakkan melalui isolasi virus atau PCR dari apusan tenggorok, feses, atau cairan vesikel. (2) Identifikasi serotipe virus, khususnya pemisahan enterovirus A71 dari coxsackievirus A16, dapat memiliki implikasi prognostik mengingat enterovirus A71 lebih sering dikaitkan dengan komplikasi neurologis berat. Dalam praktik klinis sehari-hari, pemeriksaan penunjang lebih difokuskan pada kasus dengan gambaran klinis atipikal, komplikasi yang dicurigai, atau kebutuhan surveilans epidemiologi.
Gambar 1. Varicella
Gambar 2. HFMD
Tata Laksana
Pendekatan tata laksana HFMD bersifat suportif, mengingat hingga saat ini belum tersedia antiviral spesifik yang terbukti efektif. Terapi difokuskan pada hidrasi adekuat, penanganan demam, serta manajemen nyeri oral yang sering menjadi kendala asupan makan dan minum pada anak. (2) Pemantauan ketat perlu dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda awal komplikasi neurologis atau kardiovaskular, terutama pada kasus yang dicurigai akibat enterovirus A71.
Varicella pada anak imunokompeten umumnya bersifat swasirna dan cukup mendapat terapi suportif berupa antipruritik topikal dan antipiretik. (1) Antiviral asiklovir diindikasikan pada kelompok risiko tinggi—termasuk pasien imunokompromais, pasien dengan terapi steroid dosis tinggi, neonatus, remaja, dan dewasa—dengan dosis yang disesuaikan. Vaksinasi varicella pasca-pajanan dalam 3 hari pertama masih dapat memberikan perlindungan yang bermakna.
Kemungkinan Koinfeksi HFMD dan Varicella
Meski tergolong jarang, koinfeksi HFMD dan varicella pada anak yang sehat pernah dilaporkan dalam literatur medis. Na et al. (2009) mendokumentasikan sebuah kasus pada anak sehat yang secara simultan mengalami kedua infeksi ini, dengan konfirmasi laboratorium melalui PCR dan serologi. (3) Kasus koinfeksi semacam ini menunjukkan bahwa gambaran klinis yang tidak khas—misalnya eksantem vesikular dengan distribusi sekaligus di area sentral dan akral, disertai enantem oral—seharusnya mendorong klinisi untuk mempertimbangkan kemungkinan koinfeksi.
Diagnosis koinfeksi memerlukan konfirmasi laboratorium dari kedua patogen, yaitu PCR untuk VZV serta isolasi atau PCR untuk enterovirus. Tata laksana pada kondisi ini bersifat kombinasi: terapi suportif untuk komponen HFMD ditambah asiklovir apabila terdapat indikasi untuk komponen varicella berdasarkan penilaian risiko individual pasien. Pemantauan yang lebih ketat diperlukan mengingat beban infeksi ganda yang dapat memperburuk klinis secara keseluruhan.
Kesimpulan
HFMD dan varicella merupakan dua entitas penyakit vesikular pada anak yang memiliki beberapa kemiripan klinis namun berbeda secara fundamental dalam hal etiologi, patofisiologi, distribusi lesi, derajat pruritus, dan pendekatan tata laksana. Pembedaan klinis yang cermat—dengan memperhatikan distribusi lesi, sifat pruritus, ada tidaknya enanthem oral, serta profil epidemiologi—merupakan langkah krusial yang menentukan keputusan terapeutik. Di tengah peningkatan kasus HFMD yang tengah berlangsung, kemampuan diagnostik yang tepat menjadi semakin relevan agar pemberian antiviral tidak berlebihan maupun terlewatkan.
Kewaspadaan terhadap komplikasi neurologis pada HFMD akibat enterovirus A71, serta kebutuhan antiviral pada varicella kelompok risiko tinggi, perlu selalu menjadi pertimbangan klinis. Selain itu, meskipun jarang, kemungkinan koinfeksi kedua penyakit harus dipikirkan pada kasus dengan gambaran klinis yang tidak lazim, dan konfirmasi laboratorium menjadi kunci dalam situasi tersebut. Dengan pemahaman yang komprehensif atas kedua kondisi ini, dokter anak dapat memberikan penanganan yang tepat sasaran demi optimalisasi luaran klinis pasien.
Referensi
1. Saleh HM, Ayoade F, Kumar S. Varicella-Zoster Virus (Chickenpox) [Updated 2025 Apr 27]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448191/
2. Guerra AM, Orille E, Waseem M. Hand, Foot, and Mouth Disease [Updated 2023 Mar 4]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431082/
3. Na SY, Son YM, Lee HY, Baek JO, Roh JY, Lee JR. A Case of Varicella Combined with Hand-foot-mouth Disease in a Healthy Child. Ann Dermatol. 2009 Feb;21(1):98-101. doi: 10.5021/ad.2009.21.1.98. Epub 2009 Feb 28. PMID: 20548870; PMCID:

