Dot Grid

Berita

​Hipertensi pada Anak: Diagnosis dan Tata Laksana

​Hipertensi pada Anak: Diagnosis dan Tata Laksana

Latar Belakang

Hipertensi merupakan penyakit yang juga dapat terjadi pada anak dan remaja, tak hanya orang dewasa. Dalam beberapa dekade terakhir, prevalensi hipertensi pada populasi pediatrik menunjukkan kecenderungan meningkat, seiring dengan meningkatnya angka obesitas dan faktor risiko kardiometabolik lainnya. Hipertensi pada anak perlu mendapat perhatian khusus karena dapat berlanjut hingga usia dewasa dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta kerusakan organ target di kemudian hari. (1)

Berbeda dengan populasi dewasa, penyebab hipertensi pada anak sangat dipengaruhi oleh usia. Pada anak usia preadolesens, hipertensi sekunder masih mendominasi dan paling sering disebabkan oleh penyakit ginjal. Sebaliknya, pada remaja, hipertensi primer menjadi penyebab yang lebih sering ditemukan. Perbedaan ini menyebabkan pendekatan diagnosis dan tata laksana hipertensi pada anak memerlukan evaluasi yang lebih komprehensif dibandingkan pada pasien dewasa. (1,2)


Jenis Hipertensi pada Anak

Berdasarkan etiologinya, hipertensi pada anak dibagi menjadi dua kelompok utama: yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. (1)

Hipertensi primer merupakan hipertensi yang tidak disebabkan oleh kelainan organik spesifik. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak usia sekolah dan remaja, terutama pada pasien dengan obesitas, riwayat keluarga hipertensi, pola makan tinggi natrium, serta aktivitas fisik yang rendah. (1,2)

Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Penyakit parenkim ginjal merupakan penyebab tersering dan dilaporkan bertanggung jawab terhadap sebagian besar kasus hipertensi sekunder pada anak. Penyebab lain meliputi kelainan renovaskular, koarktasio aorta, gangguan endokrin, penggunaan obat-obatan tertentu, dan beberapa sindrom genetik. (1)


Penyebab dan Patofisiologi Hipertensi

Patofisiologi hipertensi pada anak bersifat multifaktorial dan bervariasi sesuai etiologi yang mendasarinya. Pada hipertensi primer, mekanisme yang berperan antara lain peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), resistensi insulin, disfungsi endotel, dan obesitas. Faktor-faktor tersebut menyebabkan peningkatan resistensi vaskular perifer dan retensi natrium yang berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. (2)

Pada hipertensi sekunder akibat penyakit ginjal, gangguan fungsi nefron menyebabkan retensi cairan dan natrium sehingga terjadi peningkatan volume intravaskular. Aktivasi RAAS yang menyertai kondisi tersebut juga meningkatkan vasokonstriksi perifer dan mempertahankan keadaan hipertensi. (1,2)

Apabila berlangsung secara jangka panjangs, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ target berupa hipertrofi ventrikel kiri, penurunan fungsi ginjal, perubahan struktur vaskular, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada usia dewasa. (1)


Diagnosis Hipertensi pada Anak

Diagnosis hipertensi pada anak memerlukan pengukuran tekanan darah yang tepat menggunakan manset yang sesuai ukuran lengan. Panjang manset harus menutupi minimal 80% lingkar lengan atas, sedangkan lebar manset harus lebih dari 40% lingkar lengan atas (atau minimal 2/3 jarak antara akromion dan olekranon) . Pengukuran dilakukan dalam kondisi anak tenang setelah beristirahat selama beberapa menit. Posisi pengukuran bisa dilihat pada Gambar 1.  Bila hasil awal menunjukkan tekanan darah meningkat, pengukuran perlu diulang dan hasilnya dirata-ratakan untuk menentukan klasifikasi tekanan darah secara akurat. Interpretasi pengukuran tekanan darah bisa dilihat dari Tabel 1. (1)


Tabel 1. Kategori Hipertensi pada Anak

Kategori

Anak Usia 1–13 Tahun

Anak Usia ≥13 Tahun

Tekanan darah normal

Sistolik dan diastolik < persentil 90

<120/80 mmHg

Tekanan darah meningkat

Sistolik dan diastolik ≥ persentil 90 tetapi < persentil 95, atau 120/80 mmHg tetapi < persentil 95

120/<80 mmHg – 129/<80 mmHg

Hipertensi tingkat 1

Sistolik dan/atau diastolik antara persentil 95 sampai persentil 95 + 12 mmHg, atau 130/80 mmHg – 138/89 mmHg

130/80 mmHg – 138/89 mmHg

Hipertensi tingkat 2

Sistolik dan/atau diastolik ≥ persentil 95 + 12 mmHg, atau ≥140/90 mmHg

≥140/90 mmHg



Setelah hipertensi terkonfirmasi, evaluasi harus dilakukan untuk menentukan penyebab yang mendasari, mengidentifikasi komorbiditas, dan menilai adanya kerusakan organ target. Anamnesis mencakup riwayat perinatal, penyakit ginjal, riwayat keluarga hipertensi, pola makan, aktivitas fisik, penggunaan obat-obatan, serta faktor psikososial. Pemeriksaan fisik menyeluruh juga penting untuk mencari petunjuk etiologi hipertensi sekunder. (1)

Pemeriksaan penunjang dasar meliputi urinalisis, pemeriksaan elektrolit, ureum, kreatinin, dan profil lipid. Ultrasonografi ginjal direkomendasikan pada anak berusia kurang dari enam tahun atau bila ditemukan kelainan fungsi ginjal. Pemeriksaan ekokardiografi diperlukan untuk mengevaluasi hipertrofi ventrikel kiri sebagai manifestasi kerusakan organ target akibat hipertensi. (1)

Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM) semakin direkomendasikan untuk membantu konfirmasi diagnosis hipertensi pada anak. Selain memberikan gambaran tekanan darah selama 24 jam, ABPM dapat mengidentifikasi white coat hypertension dan masked hypertension. White coat hypertension adalah kondisi ketika tekanan darah tampak tinggi saat diperiksa di fasilitas kesehatan tetapi normal pada pengukuran di luar klinik. Sebaliknya, masked hypertension terjadi ketika tekanan darah tampak normal saat pemeriksaan klinis namun meningkat dalam aktivitas sehari-hari. Pengenalan kedua kondisi ini penting untuk mencegah overdiagnosis maupun underdiagnosis hipertensi pada anak. (1,2)


Tata Laksana Berdasarkan Tipe dan Penyebab Hipertensi

Tujuan tata laksana hipertensi pada anak adalah menurunkan tekanan darah hingga mencapai target sesuai usia serta mencegah kerusakan organ target dan komplikasi kardiovaskular jangka panjang. (1)

Pada hipertensi primer tanpa komplikasi, terapi awal berupa modifikasi gaya hidup. Intervensi yang direkomendasikan meliputi penurunan berat badan pada anak dengan obesitas, pembatasan asupan garam, peningkatan konsumsi buah dan sayuran, aktivitas fisik teratur, serta penghentian paparan rokok dan alkohol pada remaja. (1,2)

Terapi farmakologis diindikasikan pada hipertensi simptomatik, hipertensi sekunder, hipertensi tingkat 2, adanya kerusakan organ target, diabetes melitus, atau hipertensi tingkat 1 yang tidak membaik setelah modifikasi gaya hidup. (1)

Golongan obat yang umum digunakan meliputi angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor), angiotensin receptor blocker (ARB), calcium channel blocker (CCB), diuretik, dan beta-blocker. Pemilihan obat harus mempertimbangkan penyebab hipertensi serta komorbiditas yang menyertai. Pada pasien dengan proteinuria atau penyakit ginjal kronik, ACE inhibitor atau ARB sering menjadi pilihan karena memberikan efek proteksi ginjal tambahan. (1,2)

Pada hipertensi sekunder, tata laksana definitif harus ditujukan pada penyakit yang mendasari. Pengobatan penyakit ginjal, koreksi koarktasio aorta, atau tata laksana gangguan endokrin yang menjadi penyebab hipertensi merupakan langkah penting untuk mencapai kontrol tekanan darah yang optimal. (1)


Pencegahan

Pencegahan hipertensi pada anak berfokus pada pengendalian faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Upaya tersebut meliputi pencegahan obesitas, penerapan pola makan sehat rendah natrium, peningkatan aktivitas fisik, pembatasan waktu sedentary, serta pemantauan pertumbuhan secara berkala. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin sejak usia tiga tahun juga direkomendasikan untuk mendukung deteksi dini hipertensi. . (1)


Kesimpulan

Hipertensi pada anak merupakan masalah kesehatan yang semakin sering dijumpai dan memerlukan perhatian serius karena dapat berlanjut hingga usia dewasa. Etiologi hipertensi pada anak berbeda menurut kelompok usia, dengan hipertensi sekunder lebih sering ditemukan pada anak kecil dan hipertensi primer lebih dominan pada remaja. Diagnosis memerlukan pengukuran tekanan darah yang akurat, evaluasi etiologi yang sistematis, serta penilaian kerusakan organ target. Pemanfaatan ABPM membantu meningkatkan akurasi diagnosis melalui identifikasi white coat hypertension dan masked hypertension. Tata laksana meliputi modifikasi gaya hidup, terapi farmakologis sesuai indikasi, serta penanganan penyakit dasar pada hipertensi sekunder. Pendekatan yang tepat diharapkan dapat menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular jangka panjang pada populasi pediatrik.


Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/4613/2021 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi pada Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2021.
  2. Thomas J, Stonebrook E, Kallash M. Pediatric hypertension: Review of the definition, diagnosis, and initial management. Int J Pediatr Adolesc Med. 2022;9(1):1-6.

Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan