Berita
Hidden Hunger pada Anak di Indonesia

Latar Belakang
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan dalam perbaikan status gizi anak, khususnya melalui penurunan prevalensi stunting dan peningkatan asupan protein pada balita. Berbagai intervensi gizi spesifik dan sensitif telah berkontribusi terhadap perbaikan indikator pertumbuhan linear anak. Namun, keberhasilan ini menyisakan tantangan lain yang kerap luput dari perhatian klinis dan kebijakan, yaitu hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Kondisi ini merujuk pada defisiensi zat gizi mikro esensial yang tidak selalu disertai tanda klinis malnutrisi energi-protein, sehingga sering tidak terdeteksi melalui pemantauan antropometri rutin. Hidden hunger berpotensi menghambat kualitas tumbuh kembang anak meskipun berat dan tinggi badan tampak normal. (1,2)
Definisi Hidden Hunger
Hidden hunger didefinisikan sebagai keadaan kekurangan satu atau lebih zat gizi mikro penting, seperti vitamin dan mineral, yang dibutuhkan untuk fungsi metabolik, imunologis, dan neurokognitif optimal. Kondisi ini dapat terjadi pada anak dengan asupan energi dan protein yang adekuat, namun dengan kualitas diet yang rendah atau kurang beragam. Berbeda dengan malnutrisi akut atau kronik yang mudah dikenali secara klinis, hidden hunger bersifat subklinis, berkembang perlahan, dan dampaknya baru terlihat dalam jangka panjang berupa gangguan fungsi imun, penurunan kapasitas belajar, hingga peningkatan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari. (3)
Situasi Hidden Hunger di Indonesia
Data nasional menunjukkan bahwa permasalahan defisiensi zat gizi mikro masih signifikan pada anak Indonesia, termasuk pada kelompok balita dan anak usia sekolah. Analisis berbasis biomarker pada anak usia di bawah 12 tahun menunjukkan bahwa defisiensi zat gizi mikro masih banyak ditemukan, terutama vitamin A, zinc, vitamin D, dan kalsium. Prevalensi defisiensi vitamin A dan retinol-binding protein 4 (RBP4) dilaporkan sebesar 8,14% pada balita dan 4,27% pada anak usia 5–12 tahun. Defisiensi zinc ditemukan pada 53,11% balita dan 52,5% anak usia sekolah, sementara defisiensi vitamin D masing-masing sebesar 40% dan 18,14%. (2) Menurut data Riskesdas 2018, 32% prevalensi anemia pada ibu hamil 48,9%, dan prevalensi anemia pada usia 5-14 tahun (26,8%) dan usia 15-24 tahun (32%). (4) Data globa menunjukkan bahwa defisiensi besi merupakan penyebab dari 50% kasus anemia. (5) Menurut sebuah studi yang dilakukan di Jakarta, prevalensi defisiensi besi non-anemik mencapai 17.2%. (6) Untuk ketahui jumlah AKG mikronutrien yang yang dibutuhkan anak, silahkan baca artikel berikut: Angka Kecukupan Gizi Mikronutrien pada Anak
Temuan ini menunjukkan bahwa perbaikan status gizi makro belum diikuti secara seimbang oleh kecukupan gizi mikro. Menariknya, sebagian anak juga menunjukkan profil lipid darah yang tinggi bersamaan dengan defisiensi zat gizi mikro tertentu, mencerminkan transisi gizi yang kompleks, di mana diet tinggi energi tetapi miskin mikronutrien menjadi semakin umum. Kondisi ini berisiko menimbulkan double burden of malnutrition bahkan sejak usia dini. (3)
Implikasi Klinis dan Peran Dokter Anak
Hidden hunger memiliki implikasi klinis yang luas dan sering kali tidak terdeteksi dalam praktik sehari-hari karena keterbatasan pendekatan skrining yang terlalu berfokus pada indikator antropometri. Weffort dan Lamounier menegaskan bahwa anak dengan berat dan tinggi badan normal dapat tetap mengalami defisiensi zat gizi mikro yang bermakna secara klinis, dengan konsekuensi terhadap fungsi imun, metabolisme, dan perkembangan neurokognitif. Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian anak tampak “sehat” secara fisik, tetapi mengalami infeksi berulang, kelelahan, gangguan konsentrasi, atau keterlambatan perkembangan yang tidak dapat dijelaskan hanya dari status gizi makro. (3)
Defisiensi zat gizi mikro tertentu memiliki dampak spesifik yang relevan dalam praktik pediatri. Kekurangan zinc dan vitamin A berhubungan dengan penurunan imunitas mukosa dan seluler, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas dan diare. Defisiensi zat besi, vitamin B kompleks, dan vitamin D berkontribusi terhadap gangguan fungsi kognitif, penurunan kapasitas belajar, serta gangguan regulasi emosi dan perilaku. Pada fase pertumbuhan pesat, terutama pada balita dan anak usia sekolah, defisiensi mikronutrien juga dapat mengganggu maturasi organ dan sistem endokrin, dengan dampak jangka panjang terhadap risiko penyakit metabolik di usia dewasa. (3)
Dalam konteks transisi gizi, hidden hunger sering beriringan dengan pola makan tinggi energi namun rendah kepadatan zat gizi mikro. Weffort dan Lamounier menyoroti bahwa peningkatan konsumsi pangan ultra-proses dan rendah mikronutrien dapat menyebabkan koeksistensi defisiensi zat gizi mikro dengan profil lipid abnormal atau kelebihan berat badan. Kondisi ini memperkuat konsep double burden of malnutrition, yang semakin sering dijumpai pada anak-anak di negara berkembang, termasuk Indonesia. (3)
Bagi dokter anak, temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan klinis yang lebih komprehensif dalam penilaian status gizi. Evaluasi tidak seharusnya berhenti pada pengukuran berat dan tinggi badan, tetapi perlu mencakup asesmen kualitas diet, keragaman pangan, riwayat asupan mikronutrien, serta faktor risiko sosial dan lingkungan. Pada kelompok anak berisiko tinggi, seperti anak dengan infeksi berulang, gangguan tumbuh kembang, atau pola makan selektif, pertimbangan pemeriksaan biomarker mikronutrien menjadi relevan sebagai bagian dari upaya deteksi dini. Intervensi yang tepat waktu melalui edukasi gizi, perbaikan pola makan, dan suplementasi selektif untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien sesuai Angka Kebutuhan Gizi (AKG) berpotensi mencegah dampak jangka panjang hidden hunger terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan anak. Jumlah AKG tiap mikronutrien bisa dilihat di artikel berikut: (3)
Kesimpulan dan Penutup
Hidden hunger merupakan bentuk malnutrisi tersembunyi yang masih menjadi tantangan kesehatan anak di Indonesia, meskipun indikator gizi makro menunjukkan perbaikan. Tingginya prevalensi defisiensi zat gizi mikro pada balita dan anak usia sekolah menegaskan perlunya pendekatan gizi yang lebih holistik, mencakup pemantauan asupan mikronutrien, edukasi pola makan seimbang, serta intervensi berbasis bukti. Upaya pencegahan hidden hunger sangat penting untuk memastikan bahwa keberhasilan penurunan stunting benar-benar diikuti oleh peningkatan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia Indonesia di masa depan. (1–3)
Daftar Pustaka
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Potret stunting di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2023. Available from: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-stunting-di-indonesia/
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Status zat gizi mikro pada balita dan anak usia sekolah di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2023. Available from: https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/4286/
- Weffort VRS, Lamounier JA. Hidden hunger – a narrative review. J Pediatr (Rio J). 2024;100 Suppl 1:S10–S17. doi:10.1016/j.jped.2023.08.009. PMCID: PMC10960185.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pencegahan Anemia pada Ibu Hamil dan Remaja Putri. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
- Warner MJ, Kamran MT. Iron Deficiency Anemia. [Updated 2023 Aug 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448065/
- Sumarlan ES, Windiastuti E, Gunardi H. Iron status, prevalence and risk factors of iron deficiency anemia among 12- to 15-year-old adolescent girls from different socioeconomic status in Indonesia. Med J Indones. 2018;22(1). Available from: https://scholarhub.ui.ac.id/mjhr/vol22/iss1/8/

