Berita
Hepatitis B pada Anak: Pencegahan dan Tata Laksana Komprehensif bagi Dokter Anak di Indonesia

Latar Belakang
Hepatitis B (HB) adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV), dengan predileksi utama pada hepatosit. Penyakit ini dapat bermanifestasi akut maupun kronis dan berpotensi menyebabkan komplikasi berat seperti sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler (KHS). Pada anak, infeksi HBV memiliki konsekuensi jangka panjang yang lebih serius dibandingkan dewasa karena tingginya risiko kronisitas akibat imaturitas sistem imun. (1)
Di Indonesia, hepatitis B tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat utama, dengan prevalensi antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) pada anak sekitar 1%, meskipun cakupan imunisasi telah meningkat. (2) Penularan vertikal dari ibu ke bayi merupakan rute transmisi utama di negara dengan endemisitas tinggi. (1) Oleh karena itu, penting bagi dokter anak untuk memahami etiologi, diagnosis dini, tatalaksana, serta strategi pencegahan yang efektif untuk memutus rantai penularan, terutama pada periode perinatal.
Etiologi dan Epidemiologi
HBV merupakan virus DNA dari famili Hepadnaviridae yang bersifat hepatotropik. (1) Genomnya mengandung empat gen utama (S, C, P, dan X) yang berperan dalam sintesis antigen HBsAg, HBeAg, dan HBcAg. Di Indonesia, genotipe B dan C adalah yang paling sering ditemukan, dengan genotipe C cenderung berhubungan dengan perjalanan penyakit yang lebih berat dan risiko sirosis yang lebih tinggi. (2)
WHO memperkirakan sekitar 254 juta orang hidup dengan infeksi kronis HBV di seluruh dunia, dengan 1.1 juta kematian setiap tahun akibat komplikasi hati. (3) Di Indonesia, prevalensi HBsAg berkisar 7,1 % pada populasi umum, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan endemisitas menengah-tinggi. (2) Lebih dari 90% anak yang tertular hepatitis B secara vertikal dari ibu memiliki risiko untuk mengalami hepatitis B kronik. (1)
Faktor Risiko dan Patogenesis
Faktor risiko utama pada anak adalah transmisi vertikal dari ibu yang terinfeksi HBsAg dan HBeAg positif. (1) Penularan terjadi saat persalinan melalui kontak dengan darah dan cairan tubuh ibu. Penularan juga dapat terjadi horizontal melalui kontak erat dengan anggota keluarga yang terinfeksi, transfusi darah, atau penggunaan alat medis tidak steril. (1)
Setelah infeksi, HBV masuk ke hepatosit dan membentuk covalently closed circular DNA (cccDNA) yang menetap di inti sel, menyebabkan infeksi kronis. Aktivasi sistem imun seluler menentukan apakah infeksi akan bersifat akut, kronis, atau menetap tanpa gejala. (1)
Infeksi vertikal merupakan penyebab utama hepatitis B kronik pada anak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. (2) Bayi yang lahir dari ibu HBsAg dan HBeAg positif memiliki risiko transmisi hingga 90% bila tidak mendapat imunisasi profilaksis segera setelah lahir. (2) Oleh karena itu, skrining HBsAg pada ibu hamil sangat penting untuk menentukan kebutuhan imunoprofilaksis ganda pada bayi.
Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis hepatitis B pada anak sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik hingga gagal hati fulminan. Pada infeksi akut, gejala dapat berupa ikterus, hepatomegali, mual, dan kelelahan, meskipun sebagian besar anak hanya menunjukkan peningkatan enzim hati tanpa gejala klinis jelas. (1)
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan serologis:
- HBsAg positif menandakan infeksi aktif.
- Anti-HBc IgM menunjukkan infeksi akut, sedangkan anti-HBc total menandakan infeksi lama.
- HBeAg menunjukkan replikasi virus aktif, sedangkan anti-HBe menunjukkan konversi imunologis. (1)
- Pemeriksaan kuantitatif DNA HBV digunakan untuk memantau replikasi virus dan respons terhadap terapi. (2)
Komplikasi
Infeksi kronik berisiko menyebabkan peradangan hati kronis, fibrosis progresif, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler. (1) Anak dengan infeksi perinatal kronik sering kali berada pada fase imunotoleran selama bertahun-tahun sebelum memasuki fase inflamasi aktif yang menyebabkan kerusakan hepatosit. (1)
Rekomendasi Tatalaksana dan Pencegahan
Tatalaksana hepatitis B pada anak meliputi penilaian fase penyakit, fungsi hati, dan status replikasi virus. Terapi antivirus seperti interferon alfa dan analog nukleos(t)ida (entekavir, tenofovir) dapat digunakan pada kasus kronik dengan peningkatan ALT persisten dan kadar DNA HBV tinggi. (2) Pemantauan berkala terhadap fungsi hati, HBsAg, HBeAg, dan DNA HBV penting untuk menentukan waktu inisiasi terapi dan menilai respons pengobatan.
Namun, strategi yang paling efektif tetap pencegahan melalui imunisasi. Pemberian vaksin hepatitis B dosis pertama dalam 24 jam pertama setelah lahir merupakan langkah krusial untuk mencegah transmisi vertikal. (2) Vaksin ini harus diberikan tanpa menunggu status HBsAg ibu, karena efektivitas proteksi paling tinggi bila disuntikkan segera setelah lahir. Bila ibu diketahui HBsAg positif, bayi juga harus menerima hepatitis B immunoglobulin (HBIg) pada tempat yang berbeda dalam 12 jam pertama kehidupan untuk memberikan perlindungan pasif. (2)
Pemberian vaksin selanjutnya dilakukan sesuai jadwal imunisasi dasar, yaitu pada usia 0, 2, 3, dan 4 bulan, atau mengikuti jadwal yang direkomendasikan IDAI dan Kemenkes RI. (2) Selain imunisasi bayi, skrining ibu hamil dan edukasi tenaga kesehatan tentang pencegahan penularan nosokomial juga menjadi komponen utama pengendalian hepatitis B.
Untuk anak yang lahir dari ibu dengan positif HbsAg, anak dianjurkan untuk periksa HbsAg atau anti-HBs pada usia 9-12 bulan untuk pemantauan. (4)
Kesimpulan dan Penutup
Hepatitis B pada anak tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Transmisi vertikal adalah sumber utama infeksi kronik yang dapat dicegah dengan imunisasi dini segera setelah lahir. Diagnosis dini, pemantauan serologis, serta tatalaksana farmakologis yang tepat dapat mencegah progresi menuju sirosis dan karsinoma hepatoseluler.
Dokter anak memiliki peran sentral dalam mengidentifikasi bayi berisiko tinggi, memberikan vaksinasi segera setelah lahir, serta melakukan edukasi kepada keluarga dan tenaga medis. Dengan penerapan pencegahan universal, skrining ibu hamil, dan imunisasi yang tepat waktu, eliminasi hepatitis B sebagai ancaman kesehatan anak di Indonesia dapat dicapai dalam dekade mendatang.
Referensi
- Kasper DL, Fauci AS, Hauser SL, et al. Hepatitis B. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025. Accessed from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554400/
- KEMENKES. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Hepatitis B pada Anak. Jakarta: KEMENKES; 2019.
- WHO. Hepatitis B. 2025. Accessed from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-b
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2017. Available from: https://www.kemkes.go.id

