Berita
Hepatitis A dan Hepatitis E: Dua Hepatitis Virus yang Ditularkan Melalui Rute Fekal-Oral

Latar Belakang
Hepatitis virus merupakan salah satu masalah kesehatan global yang signifikan, dengan beban penyakit yang tidak merata antara negara berkembang dan negara maju. Di antara berbagai agen penyebab hepatitis virus, hepatitis A virus (HAV) dan hepatitis E virus (HEV) menempati posisi yang unik karena keduanya ditularkan melalui rute fekal-oral, menjadikan sanitasi dan higiene sebagai pilar utama pencegahan. 1 Bagi dokter anak di Indonesia, pemahaman mendalam terhadap kedua patogen ini memiliki relevansi klinis yang tinggi, mengingat Indonesia merupakan negara tropis dengan kepadatan penduduk yang besar, akses air bersih yang belum merata, serta prevalensi kedua infeksi ini yang masih tergolong endemis di berbagai daerah. (1)
HAV pertama kali diidentifikasi secara serologis pada tahun 1973 melalui mikroskopi elektron imun, yang menandai tonggak penting dalam pemahaman hepatitis infeksiosa akut. (2) Sementara itu, HEV diidentifikasi lebih lambat; bukti pertama infeksi hepatitis yang ditularkan secara enteral dan berbeda dari HAV diperoleh dari epidemi hepatitis yang ditularkan melalui air di Kashmir, India, pada akhir tahun 1970-an. (3) Meskipun keduanya berbagi jalur transmisi yang sama, terdapat perbedaan mendasar dalam hal virologi, populasi yang paling rentan, perjalanan penyakit, serta risiko komplikasi berat yang perlu dipahami secara terpisah oleh klinisi pediatri.
Hepatitis A Virus (HAV)
Virologi dan Patogenesis
HAV merupakan virus RNA rantai tunggal bersense positif, tidak berselubung (non-enveloped), termasuk dalam famili Picornaviridae. 2 HAV memiliki satu serotipe yang dikenal secara global, yang secara klinis bermakna karena infeksi atau vaksinasi memberikan imunitas jangka panjang. Patogenesis HAV melibatkan replikasi awal di epitel usus halus pasca-ingesti, diikuti viremia dan infeksi hepatosit. Kerusakan hati terutama dimediasi oleh respons imun seluler sitotoksik terhadap antigen virus, bukan oleh efek sitopatik langsung virus terhadap hepatosit. (1,2)
Spektrum Klinis dan Perjalanan Penyakit
Masa inkubasi HAV berkisar antara 15 hingga 50 hari, dengan rata-rata sekitar 28 hari. 2 Manifestasi klinis sangat bergantung pada usia pasien. Pada anak di bawah 6 tahun, sebagian besar infeksi bersifat asimtomatik atau hanya menimbulkan gejala ringan tanpa ikterus. Sebaliknya, pada anak yang lebih besar dan dewasa, penyakit umumnya bersifat simtomatik dan dapat bergejala lebih berat. (1) Gejala prodromal mencakup mual, muntah, anoreksia, malaise, demam, dan nyeri abdomen kuadran kanan atas, yang kemudian diikuti fase ikterik dengan jaundice, urin berwarna gelap (koluria), dan feses yang pucat (akolia).
HAV tidak menyebabkan hepatitis kronis; seluruh infeksi bersifat akut dan pada umumnya sembuh sendiri (self-limiting). (1)Namun demikian, terdapat beberapa pola klinis atipikal yang perlu dikenali, yakni hepatitis kolestatik (dengan ikterus berkepanjangan dan pruritus intens), hepatitis relaps (dengan episode gejala berulang dalam beberapa bulan), serta hepatitis fulminan—komplikasi paling berat yang ditandai gagal hati akut dan ensefalopati hepatik. Hepatitis fulminan akibat HAV lebih sering terjadi pada pasien dewasa, individu dengan penyakit hati kronis yang mendasari, dan mereka berusia lanjut. 2 Angka mortalitas akibat HAV secara keseluruhan rendah, tetapi meningkat signifikan pada kelompok risiko tinggi tersebut.
Faktor Risiko dan Epidemiologi
HAV bersifat endemis di negara-negara berkembang dengan sanitasi yang tidak memadai. Faktor risiko utama meliputi konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi tinja, perjalanan ke daerah endemis, kontak erat dengan individu terinfeksi, penggunaan narkoba suntik, dan hubungan seksual antara laki-laki (men who have sex with men, MSM). (2) Di negara-negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia, paradoks epidemiologis yang dikenal sebagai "epidemiological shift" dapat terjadi: peningkatan sanitasi mengurangi paparan dini pada anak-anak sehingga populasi dewasa muda yang naif-imunologis menjadi rentan terhadap wabah dengan klinis yang lebih berat.
Hepatitis E Virus (HEV)
Virologi, Genotipe, dan Patogenesis
HEV merupakan virus RNA rantai tunggal bersense positif, tidak berselubung, berbentuk ikosahedral dengan diameter 27–34 nm, diklasifikasikan dalam genus Orthohepevirus famili Hepeviridae. 3 Terdapat empat genotipe utama HEV yang relevan secara klinis:
Genotipe 1 dan 2 merupakan virus yang secara eksklusif menginfeksi manusia dan ditularkan melalui rute fekal-oral via air yang terkontaminasi. Genotipe ini predominan di negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Tengah, dan Timur Tengah, serta bertanggung jawab atas sebagian besar wabah berskala besar. Genotipe 3 dan 4 bersifat zoonotik, terutama ditemukan pada babi dan rusa, dan ditularkan kepada manusia melalui konsumsi daging yang tidak dimasak dengan sempurna. Genotipe ini lebih sering ditemukan di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa, serta menyebabkan kasus sporadis. (3)
Patogenesis HEV serupa dengan HAV, dengan replikasi virus terjadi di hepatosit setelah fase viremia awal. Namun, tidak seperti HAV, HEV—khususnya genotipe 3 dan 4—dapat menetap dan berkembang menjadi hepatitis kronis pada pasien imunosupresi, termasuk penerima transplantasi organ solid dan pasien infeksi HIV. (3)
Spektrum Klinis dan Perjalanan Penyakit
Masa inkubasi HEV berkisar antara 2 hingga 10 minggu. 1 Pada individu imunokompeten, infeksi HEV umumnya bersifat akut dan self-limiting dengan manifestasi klinis yang menyerupai hepatitis akut lainnya: ikterus, malaise, mual, muntah, anoreksia, dan nyeri abdomen. Meskipun demikian, HEV memiliki profil keganasan yang lebih tinggi dibandingkan HAV pada populasi rentan tertentu. (1,3)
Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat adalah ibu hamil, terutama pada trimester ketiga, di mana angka mortalitas akibat hepatitis fulminan dapat mencapai 20–25%. 1 Selain itu, pasien dengan penyakit hati kronis yang mendasari (seperti sirosis hepatis) berisiko mengalami acute-on-chronic liver failure (ACLF) yang berpotensi fatal. Pada pasien imunosupresi, infeksi HEV genotipe 3 secara khusus dapat berkembang menjadi hepatitis kronis yang berlanjut pada fibrosis hati, bahkan sirosis, jika tidak dideteksi dan ditatalaksana secara adekuat. (3)
Faktor Risiko
Faktor risiko utama untuk genotipe 1 dan 2 adalah konsumsi air yang terkontaminasi dan tinggal di daerah endemis dengan sanitasi buruk. (3)Untuk genotipe 3 dan 4, risiko meningkat pada individu yang mengonsumsi daging (terutama babi dan rusa) yang tidak dimasak hingga matang sempurna, serta pada penerima transfusi darah di negara maju. Wabah genotipe 1 dan 2 cenderung menyerang kelompok usia muda (15–40 tahun), sementara kasus sporadic genotipe 3 dan 4 lebih sering pada individu di atas 40 tahun. (3)
Kesimpulan
Hepatitis A dan Hepatitis E merupakan dua entitas infeksi hepatitis virus yang berbagi jalur transmisi fekal-oral namun menunjukkan perbedaan bermakna dalam hal spektrum klinis, populasi predileksi, dan potensi komplikasi. HAV menyebabkan hepatitis akut yang secara khas bersifat self-limiting tanpa transisi ke kronisitas, dengan predileksi klinis pada anak yang lebih besar dan dewasa muda dalam konteks epidemiologis negara berkembang. 1,2 Sebaliknya, HEV memiliki potensi keganasan yang lebih besar, khususnya pada ibu hamil di mana mortalitas akibat hepatitis fulminan sangat tinggi, dan pada pasien imunosupresi di mana infeksi dapat menjadi kronik dan berujung pada fibrosis hati progresif. 1,3
Bagi dokter anak di Indonesia, kewaspadaan terhadap kedua infeksi ini sangat penting mengingat kondisi endemisitasnya di wilayah Asia Tenggara. Diagnosis yang tepat melalui pemeriksaan serologis spesifik—anti-HAV IgM untuk hepatitis A dan anti-HEV IgM serta HEV RNA untuk hepatitis E—merupakan langkah krusial dalam membedakan keduanya dari penyebab hepatitis akut lainnya. 1 Pencegahan primer melalui vaksinasi hepatitis A pada anak usia 12 bulan ke atas, ditopang oleh perbaikan sanitasi lingkungan dan edukasi higiene, tetap menjadi intervensi yang paling efektif dan berbasis bukti. Hingga saat ini, vaksin hepatitis E telah tersedia di Tiongkok, namun belum mendapat persetujuan regulatori yang luas di negara-negara lain. 3 Pemahaman mendalam terhadap kedua penyakit ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas tata laksana klinis serta mendorong upaya pencegahan yang lebih sistematis di tingkat komunitas dan fasilitas kesehatan pediatri di Indonesia.
Referensi
1. Webb GW, Kelly S, Dalton HR. Hepatitis A and Hepatitis E: Clinical and Epidemiological Features, Diagnosis, Treatment, and Prevention. Clin Microbiol Newsl. 2020 Nov 1;42(21):171-179. doi: 10.1016/j.clinmicnews.2020.10.001.
2. Girish V, Grant LM, John S. Hepatitis A. [Updated 2024 Oct 6]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459290/
3. Girish V, Grant LM, Sharma B, et al. Hepatitis E. [Updated 2025 Apr 6]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.n

