Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Berita

​Foodborne Illnesses dan Food Safety: Tanggung Jawab Bersama untuk Kesehatan Anak dan Masyarakat

25 September 2025

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

​Foodborne Illnesses dan Food Safety: Tanggung Jawab Bersama untuk Kesehatan Anak dan Masyarakat

Latar Belakang

Foodborne illnesses atau penyakit yang ditularkan melalui makanan adalah gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme patogen atau zat kimia berbahaya. Lebih dari 200 penyakit dapat ditularkan melalui makanan, mulai dari diare, keracunan akut, hingga komplikasi kronis seperti kanker yang disebabkan oleh paparan mikotoksin tertentu. (1)

Bagi anak-anak, terutama di bawah usia lima tahun, beban penyakit ini sangat besar. WHO mencatat bahwa kelompok usia ini menyumbang sekitar 40% dari total kasus global dan hingga 125.000 kematian per tahun akibat makanan yang tidak aman. Namun, masalah ini tidak hanya terbatas pada anak. Lansia, ibu hamil, dan individu dengan imunitas rendah juga sangat rentan. Oleh karena itu, edukasi tentang keamanan pangan perlu diperluas dari lingkup rumah tangga ke masyarakat luas. (1)


Etiologi dan Faktor Epidemiologi

Penyebab utama foodborne illnesses adalah bakteri seperti Escherichia coli, Salmonella spp., Campylobacter jejuni, dan Listeria monocytogenes. Virus seperti norovirus dan rotavirus, serta parasit seperti Giardia lamblia, juga berkontribusi signifikan. Selain agen biologis, kontaminan kimia berupa logam berat, pestisida, dan mikotoksin jamur menambah kompleksitas masalah ini. (1,2)

Epidemiologi global menunjukkan 600 juta kasus baru setiap tahun dengan 420.000 kematian, menjadikan foodborne illnesses sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar. Data menunjukkan bahwa Asia Tenggara merupakan wilayah dengan beban tinggi akibat kombinasi sanitasi yang belum memadai, pengawasan makanan yang kurang ketat, dan konsumsi makanan jalanan yang luas. (1)

Di tingkat nasional, tantangan terbesar adalah lemahnya rantai pengawasan keamanan pangan. Makanan yang dijual di sekolah, pasar, dan jalanan sering kali tidak memenuhi standar higienitas. Faktor budaya, seperti konsumsi makanan setengah matang, serta kebiasaan mencuci tangan yang tidak konsisten juga turut memperburuk situasi. (2)


Diagnosis

Diagnosis foodborne illnesses biasanya bersifat klinis. Gejala paling umum adalah diare, muntah, nyeri perut, dan demam yang muncul dalam beberapa jam hingga hari setelah konsumsi makanan terkontaminasi. Pada anak kecil, dehidrasi dapat berkembang cepat dan menjadi penyebab utama kematian. (1)

Pemeriksaan feses dapat membantu mengidentifikasi bakteri, virus, atau parasit penyebab. Kultur feses bermanfaat pada kasus berat atau saat diperlukan surveilans epidemiologi. Pemeriksaan darah dan elektrolit penting untuk menilai derajat dehidrasi dan gangguan sistemik. Namun, dalam praktik klinis sehari-hari, penegakan diagnosis lebih banyak bergantung pada anamnesis dan tanda klinis. (1)


Rekomendasi Tatalaksana dan Pencegahan

Tatalaksana utama foodborne illnesses adalah terapi rehidrasi. Terapi rehidrasi oral (TRO) merupakan standar emas pada kasus diare ringan hingga sedang, sedangkan rehidrasi intravena dibutuhkan pada dehidrasi berat. Nutrisi harus tetap diberikan selama episode diare untuk mencegah malnutrisi. Antibiotik tidak dianjurkan secara rutin dan hanya diberikan pada indikasi tertentu seperti infeksi Shigella berat, kolera dengan dehidrasi, atau sepsis akibat Salmonella. (1)

Pencegahan adalah kunci menurunkan angka kejadian. WHO merekomendasikan Five Keys to Safer Food, yaitu: menjaga kebersihan, memisahkan makanan mentah dan matang, memasak dengan benar, menyimpan pada suhu aman, serta menggunakan air dan bahan baku yang bersih. Prinsip ini dapat diajarkan kepada masyarakat luas melalui sekolah, fasilitas kesehatan, dan komunitas. (1)

Selain itu, peran masyarakat sangat penting dalam memastikan keamanan pangan. Orang tua harus menerapkan praktik higienis di rumah, tetapi pedagang makanan, pengelola kantin sekolah, dan pelaku industri pangan juga wajib menjaga standar keamanan dalam produksi dan distribusi. Pendidikan kesehatan perlu diperluas tidak hanya kepada keluarga, tetapi juga kepada pelaku usaha kecil menengah yang menyediakan makanan sehari-hari bagi masyarakat. (1)


Peran Pemerintah dan Pemangku Kepentingan

Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin keamanan pangan melalui regulasi, pengawasan, dan edukasi publik. Kementerian Kesehatan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu memperkuat inspeksi rutin pada industri pangan, termasuk pedagang kecil dan makanan jalanan yang banyak dikonsumsi anak. (1)

Program lintas sektor yang mengintegrasikan kesehatan, pendidikan, dan lingkungan harus digalakkan. Misalnya, pengawasan kantin sekolah, penyediaan akses air bersih di komunitas, serta peningkatan kesadaran tentang sanitasi. Selain itu, sistem surveilans nasional perlu diperkuat agar kejadian luar biasa (KLB) foodborne illnesses dapat terdeteksi lebih cepat dan dicegah penyebarannya. (1)

Pendekatan berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui kader kesehatan, organisasi keagamaan, serta media untuk memperluas jangkauan edukasi. Dengan demikian, food safety menjadi tanggung jawab kolektif, bukan hanya individu. (1)


Kesimpulan dan Penutup

Foodborne illnesses tetap menjadi masalah kesehatan global dengan beban besar pada anak, namun berdampak luas bagi seluruh masyarakat. Diagnosis umumnya klinis dengan gejala gastrointestinal akut, sedangkan penatalaksanaan berfokus pada rehidrasi dan dukungan nutrisi.

Upaya pencegahan melalui prinsip Five Keys to Safer Food WHO sangat relevan untuk diterapkan di tingkat keluarga, komunitas, dan sekolah. Namun, keamanan pangan tidak hanya tanggung jawab individu. Peran pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan masyarakat sipil sangat penting untuk menciptakan sistem keamanan pangan yang menyeluruh.

Bagi dokter anak di Indonesia, pemahaman tentang foodborne illnesses dan food safety bukan hanya relevan dalam praktik klinis, tetapi juga dalam advokasi dan edukasi masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, kejadian penyakit bawaan makanan dapat ditekan, kualitas hidup masyarakat meningkat, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat.


Referensi

  1. World Health Organization. Food Safety [Internet]. Geneva: WHO; 2024 [cited 2025 Sep 21]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/food-safety
  2. Tambekar DH, Jaiswal VJ, Dhanorkar DV, Gulhane PB, Dudhane MN. Identification of microbiological hazards and safety of ready-to-eat food vended in streets of Amravati City, India. Microbiol Res. 2012;3(3):529–36.





Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan