Berita
Februari Adalah Bulan Vitamin A, Jangan Sampai Terlewat!

Latar Belakang
Bulan Februari kembali menjadi momentum pelaksanaan suplementasi vitamin A secara massal di Indonesia, dengan periode berikutnya pada bulan Agustus. Program ini telah lama menjadi bagian dari strategi nasional kesehatan anak dan bukan sekadar kegiatan seremonial. Penetapan bulan khusus untuk suplementasi vitamin A bertujuan memastikan cakupan tinggi dan merata pada populasi balita, terutama karena defisiensi vitamin A (DVA) dapat berdampak luas terhadap morbiditas dan mortalitas anak.
WHO merekomendasikan pemberian suplementasi vitamin A di negara dengan risiko defisiensi sebagai intervensi kesehatan masyarakat yang terintegrasi dengan program imunisasi dan layanan kesehatan anak lainnya . (1) Pendekatan massal dipilih karena DVA sering kali bersifat subklinis dan tidak terdeteksi secara individual hingga muncul komplikasi. Dengan menjadikannya program nasional terjadwal dua kali setahun, Indonesia berupaya menutup celah akses serta memastikan proteksi pada kelompok usia paling rentan.
Sejarah dan Dasar Epidemiologis Program Nasional
Indonesia mulai menerapkan suplementasi vitamin A secara rutin secara nasional sejak awal 1990-an, didorong oleh bukti epidemiologis bahwa defisiensi vitamin A masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Laporan akademik dan kebijakan kesehatan pada era tersebut menunjukkan tingginya prevalensi DVA pada anak balita, yang berkorelasi dengan peningkatan risiko infeksi dan gangguan penglihatan . (2)
Sejak itu, Indonesia mengikuti rekomendasi WHO untuk memberikan kapsul vitamin A dosis tinggi pada anak usia 6–59 bulan di wilayah dengan risiko DVA. Strategi ini diintegrasikan dengan program imunisasi dan pelayanan kesehatan dasar, sehingga distribusinya dapat dilakukan melalui posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan primer . (1)
Dampak Klinis Defisiensi Vitamin A
Secara klinis, defisiensi vitamin A dapat menyebabkan gangguan penglihatan mulai dari rabun senja hingga xerophthalmia dan keratomalasia pada kasus berat. Selain manifestasi okular, vitamin A berperan penting dalam fungsi imun, diferensiasi sel epitel, dan integritas mukosa . (3)
Kekurangan vitamin A dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi saluran napas dan diare, serta memperburuk luaran pada penyakit infeksi tertentu. Salah satu kondisi yang relevan dalam konteks saat ini adalah campak. Defisiensi vitamin A diketahui dapat memperberat perjalanan klinis campak dan meningkatkan risiko komplikasi okular maupun sistemik . (3)
Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia kembali melaporkan peningkatan kasus campak di sejumlah wilayah. (4) Situasi ini mengingatkan bahwa intervensi nutrisi, termasuk suplementasi vitamin A, tetap memiliki peran penting sebagai bagian dari pendekatan komprehensif pencegahan komplikasi pada anak.
Rekomendasi WHO dan Tata Cara Pemberian
WHO merekomendasikan suplementasi vitamin A pada anak usia 6–59 bulan di negara dengan risiko defisiensi sebagai intervensi populasi yang efektif dalam menurunkan mortalitas anak . (1) Di Indonesia, skema pemberian mengikuti rekomendasi tersebut dengan rincian sebagai berikut:
- Anak usia 6–11 bulan diberikan kapsul vitamin A dosis 100.000 IU.
- Anak usia 12–59 bulan diberikan kapsul vitamin A dosis 200.000 IU.
Pemberian dilakukan setiap enam bulan, yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Dosis tinggi ini bersifat aman bila diberikan sesuai jadwal yang dianjurkan, karena vitamin A disimpan dalam hati dan digunakan secara bertahap oleh tubuh . (3)
Integrasi program vitamin A dengan layanan imunisasi dan pemantauan pertumbuhan bertujuan meningkatkan cakupan serta memudahkan akses bagi keluarga.
Kesimpulan dan Relevansi bagi Dokter Anak
Bulan Vitamin A bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan refleksi dari strategi kesehatan masyarakat berbasis bukti yang telah diterapkan sejak awal 1990-an di Indonesia. Defisiensi vitamin A memiliki dampak multisistem, termasuk peningkatan kerentanan terhadap infeksi dan perburukan penyakit seperti campak.
Bagi dokter anak di Indonesia, momentum ini menjadi pengingat untuk memastikan bahwa setiap anak usia 6–59 bulan memperoleh suplementasi sesuai jadwal. Edukasi kepada orang tua mengenai manfaat vitamin A serta integrasinya dengan imunisasi dan pencegahan infeksi perlu terus diperkuat. Dalam konteks peningkatan kasus campak belakangan ini, suplementasi vitamin A tetap relevan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif untuk menurunkan risiko komplikasi dan menjaga ketahanan kesehatan anak Indonesia.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Vitamin A supplementation and integration with immunization and other child health interventions. Tersedia dari: https://www.who.int/teams/immunization-vaccines-and-biologicals/essential-programme-on-immunization/integration/linking-with-other-health-interventions/vitamin-a
- Repository Poltekkes Kemenkes Jakarta II. Program suplementasi vitamin A di Indonesia. Tersedia dari: https://repository.poltekkesjkt2.ac.id/index.php?p=fstream-pdf&fid=9910&bid=8657
- McEldrew EP, Lopez MJ, Milstein H. Vitamin A. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482362/
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. KLB campak meningkat, Kemenkes ingatkan pentingnya imunisasi lengkap. https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnya-imunisasi-lengkap

