Dot Grid

Berita

​Faringitis Akut pada Anak: Kapan Antibiotik Diperlukan?

​Faringitis Akut pada Anak: Kapan Antibiotik Diperlukan?

Latar Belakang

Faringitis akut merupakan keluhan yang sangat sering dijumpai dalam praktik pediatri, menyumbang sekitar 12 juta kunjungan tahunan di Amerika Serikat, dengan hampir separuh kasus terjadi pada anak. (1) Sebagian besar kasus, yakni sekitar 70–90%, disebabkan oleh virus dan bersifat swasirna, sementara Streptococcus grup A beta-hemolitikus (SGA) hanya menyumbang 5–15% kasus di negara maju. (1) Fakta epidemiologis ini menjadi dasar penting bagi dokter anak untuk tidak memberikan antibiotik secara rutin pada setiap kasus faringitis, mengingat data menunjukkan resep antibiotik justru diberikan pada 49–57% anak dengan faringitis, jauh melampaui prevalensi infeksi bakterial yang sesungguhnya memerlukan terapi. (1) Pertanyaan klinis yang relevan kemudian adalah kapan sesungguhnya antibiotik diperlukan, dan bagaimana membedakan penyebab viral dari bakterial secara rasional.


Etiologi

Penyebab faringitis akut pada anak sangat beragam, mencakup rhinovirus, adenovirus, coxsackievirus, virus Epstein-Barr, serta virus influenza dan parainfluenza sebagai penyebab viral tersering. (4) Di antara penyebab bakterial, SGA atau Streptococcus pyogenes merupakan penyebab tersering dan paling bermakna secara klinis karena berpotensi menimbulkan komplikasi supuratif maupun nonsupuratif seperti demam rematik akut dan glomerulonefritis pascastreptokokus apabila tidak ditata laksana dengan tepat. (2) Faringitis SGA paling sering dijumpai pada anak usia 5–15 tahun dan jarang terjadi pada anak di bawah usia 3 tahun. (2)


Membedakan Faringitis Viral dan Bakterial

Gejala penyerta seperti batuk, pilek, suara serak, ulkus mulut, konjungtivitis, atau ruam viral umumnya mengarahkan diagnosis ke etiologi viral dan menghilangkan kebutuhan pemeriksaan penunjang. (1) Sebaliknya, temuan seperti eksudat tonsil, limfadenopati servikal anterior yang nyeri, petekie palatum, dan lidah stroberi lebih mengarah pada etiologi bakterial. (2) Karena gejala klinis dapat tumpang tindih, Centor criteria dikembangkan untuk membantu menentukan kebutuhan pemeriksaan SGA pada presentasi yang meragukan, dengan interpretasi sebagai berikut.



Tabel 1. Skor Centor

Kriteria

Poin

Eksudat tonsil

1

Limfadenopati servikal anterior yang nyeri

1

Demam >38°C

1

Tidak adanya batuk

1


Skor Centor termodifikasi (McIsaac) menambahkan poin usia: +1 untuk usia 3–14 tahun dan −1 untuk usia ≥45 tahun. (4) Skor ≤1 mengindikasikan risiko rendah (<10%) infeksi streptokokus dan cukup ditata laksana simtomatik, sedangkan skor ≥4 mengindikasikan risiko tinggi (hingga 53%) sehingga pemeriksaan atau terapi empirik lebih dipertimbangkan; skor 2–3 memerlukan pemeriksaan konfirmasi seperti rapid antigen detection test (RADT) atau kultur tenggorok sebelum keputusan terapi diambil. (4) Perlu diketahui, Centor criteria memiliki sensitivitas terbatas pada anak dan tidak boleh menggantikan penilaian klinis. (1) Pada fasilitas dengan sumber daya terbatas tanpa akses RADT atau kultur, penilaian klinis berbasis kriteria tersebut tetap menjadi pendekatan praktis untuk menyaring pasien yang memerlukan terapi antibiotik empirik, dengan tetap mempertimbangkan usia, derajat keparahan, dan riwayat paparan SGA di lingkungan sekitar anak. (3)


Tata Laksana Faringitis Viral

Faringitis viral ditata laksana secara suportif. Terapi nonfarmakologis mencakup hidrasi adekuat serta istirahat, sementara terapi farmakologis meliputi analgesik-antipiretik seperti ibuprofen atau parasetamol, dan pastiles atau obat kumur berbahan benzokain atau lidokain untuk meredakan nyeri lokal. (4) Aspirin harus dihindari pada anak karena risiko sindrom Reye. (4)


Tata Laksana Faringitis Bakterial

Terapi lini pertama faringitis SGA pada anak adalah penisilin V oral atau amoksisilin oral selama 10 hari, dengan penisilin intramuskular benzatin sebagai alternatif bila kepatuhan diragukan. (2) Pada anak dengan alergi penisilin ringan, sefaleksin atau sefadroksil dapat digunakan, sedangkan klindamisin atau azitromisin dipilih pada alergi penisilin berat. (2) Penisilin tetap menjadi pilihan utama karena belum ditemukan resistensi SGA terhadapnya hingga saat ini. (2)


Penggunaan Kortikosteroid

Kortikosteroid oral jangka pendek (1–2 hari) dapat mengurangi derajat odinofagia pada faringitis viral, namun tidak memengaruhi perjalanan klinis penyakit secara keseluruhan. (4) Pada faringitis bakterial, pemberian kortikosteroid bersamaan dengan antibiotik tidak terbukti memperbaiki nyeri dan justru berpotensi memperlambat pemulihan, sehingga tidak diindikasikan secara rutin. (4)


Indikasi Tonsilektomi

Tonsilektomi dipertimbangkan pada anak dengan episode tonsilitis streptokokus berulang yang memenuhi kriteria frekuensi tertentu, yakni lebih dari 7 episode dalam satu tahun terakhir, lebih dari 5 episode per tahun selama 2 tahun berturut-turut, atau lebih dari 3 episode per tahun selama 3 tahun berturut-turut. (4) Rujukan ke spesialis THT-KL dipertimbangkan pada kondisi tersebut, meskipun manfaat tonsilektomi perlu ditimbang terhadap risiko tindakan bedah itu sendiri pada setiap pasien secara individual. (4)


Kesimpulan dan Penutup

Mengingat mayoritas faringitis akut pada anak disebabkan oleh virus dan bersifat swasirna, pemberian antibiotik hendaknya diselektif dan didasarkan pada penilaian klinis yang cermat, dibantu oleh Centor criteria sebagai alat bantu penapisan, bukan sebagai pengganti pertimbangan klinis dokter. Tata laksana simtomatik tetap menjadi lini pertama pada faringitis viral, sementara antibiotik lini pertama seperti penisilin atau amoksisilin diperuntukkan bagi kasus dengan kecurigaan kuat atau konfirmasi infeksi SGA. Kewaspadaan terhadap penggunaan antibiotik yang rasional penting untuk mencegah resistensi antimikroba sekaligus mencegah komplikasi serius yang dapat timbul akibat faringitis streptokokus yang tidak tertangani.


Referensi

  1. Goldin J, Graber M. Acute Pharyngitis. [Updated 2024 Oct 6]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559007/
  2. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical Guidance for Group A Streptococcal Pharyngitis [Internet]. 2025 Nov 18. Available from: https://www.cdc.gov/group-a-strep/hcp/clinical-guidance/strep-throat.html
  3. Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Modul Infeksi 2019 [Internet]. Available from: https://www.pediatricfkuns.ac.id/data/ebook/Modul%20Infeksi%202019.pdf
  4. Sykes EA, Wu V, Beyea MM, Simpson MTW, Beyea JA. Pharyngitis: Approach to diagnosis and treatment. Can Fam Physician. 2020 Apr;66(4):251-257. PMID: 32273409; PMCID: PMC7145142.




Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan