Berita
Epistaksis pada Anak: Etiologi, Pertolongan Pertama, dan Tata Laksana

Latar Belakang
Epistaksis, perdarahan hidung, tau juga sering dikenal sebagai mimisan, merupakan salah satu kegawatdaruratan telinga hidung tenggorokan (THT) yang paling sering dijumpai baik di layanan primer maupun unit gawat darurat. (1) Kondisi ini dialami oleh lebih dari separuh anak sebelum usia 10 tahun, dan sekitar 9% di antaranya mengalami episode berulang. (3) Sebagian besar epistaksis pada anak bersifat jinak dan berasal dari trauma ringan atau mukosa hidung yang rapuh, sehingga jarang memerlukan pemeriksaan lanjutan yang ekstensif. (2,3) Meskipun demikian, dokter anak perlu memahami klasifikasi, penyebab, pertolongan pertama, serta indikasi rujukan agar tata laksana yang diberikan tepat dan edukasi kepada orangtua dapat disampaikan secara akurat. Artikel ini membahas penyebab epistaksis pada anak, langkah pertolongan pertama, tata laksana lanjutan, serta edukasi yang perlu disampaikan kepada orangtua.
Klasifikasi dan Penyebab Epistaksis
Secara anatomis, epistaksis diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Epistaksis anterior, yang merupakan jenis tersering dan bersumber dari pleksus Kiesselbach (area Little) pada septum nasi anterior. (1)
2. Epistaksis posterior, yang lebih jarang namun cenderung lebih berat serta lebih sering memerlukan penanganan medis, biasanya berasal dari pleksus Woodruff pada bagian posterior atau superior rongga hidung. (1)
Pada anak, penyebab tersering epistaksis adalah trauma ringan berupa mengorek hidung, menggosok hidung, bersin, batuk, atau mengejan, serta mukosa hidung yang rapuh akibat infeksi saluran napas atas, udara kering, atau penggunaan steroid intranasal. (2) Penyebab lain yang lebih jarang meliputi benda asing di hidung, polip nasal, kelainan koagulasi, malformasi vaskular, dan tumor nasofaring. (2) Selain itu, epistaksis pada anak juga dapat dipicu oleh penggunaan obat tertentu seperti antiinflamasi nonsteroid dan semprotan steroid topikal. (1)
Pertolongan Pertama (First Aid)
Pertolongan pertama pada epistaksis anterior dapat dilakukan dengan mendudukkan anak dalam posisi tegak dengan kepala sedikit ditundukkan ke depan, kemudian melakukan penekanan berkelanjutan pada bagian kartilago hidung (bukan bagian tulang) menggunakan ibu jari dan jari telunjuk selama 10-15 menit tanpa dilepas. (2,4) Anak dianjurkan bernapas melalui mulut dan membiarkan darah mengalir keluar dari hidung, bukan ditelan, untuk mencegah mual atau muntah darah. (2,4) Apabila perdarahan berhenti dengan tindakan sederhana ini, anak dapat dipulangkan dengan edukasi perawatan di rumah. (2)
Tata Laksana Lanjutan
Jika perdarahan menetap meskipun telah dilakukan penekanan yang adekuat, tata laksana lanjutan meliputi identifikasi sumber perdarahan, pemberian vasokonstriktor topikal seperti oksimetazolin, kauterisasi menggunakan perak nitrat, atau pemasangan tampon hidung anterior. (1,2) Kauterisasi sebaiknya tidak dilakukan pada anak di bawah usia empat tahun karena kesulitan kooperasi, dan tindakan ini sebaiknya dilakukan di bawah supervisi dokter senior. (2) Epistaksis posterior atau perdarahan bilateral yang tidak terkendali memerlukan konsultasi ke dokter spesialis THT. (2)
Edukasi kepada Orangtua dan Indikasi Rujukan
Edukasi kepada orangtua perlu mencakup penjelasan bahwa sebagian besar epistaksis pada anak bersifat ringan dan dapat ditangani di rumah, disertai anjuran menjaga kelembapan mukosa hidung menggunakan salin topikal serta menghindari mengorek atau meniup hidung terlalu keras selama beberapa hari setelah episode perdarahan. (2,3) Hidrasi mukosa hidung melalui emolien atau humidifikasi terbukti dapat menghentikan hingga 65% kasus epistaksis berulang pada anak. (3) Orangtua juga perlu diedukasi mengenai kapan harus membawa anak ke fasilitas kesehatan, yaitu apabila terdapat riwayat cedera kepala, leher, atau tulang belakang, perdarahan masif atau menyembur, perdarahan yang tidak berhenti setelah 15 menit penekanan yang benar, epistaksis berulang, atau anak dengan gangguan pembekuan darah maupun yang sedang mengonsumsi antikoagulan. (3,4)
Kesimpulan dan Penutup
Epistaksis pada anak umumnya merupakan kondisi jinak yang bersumber dari area anterior septum nasi dan dapat ditangani secara efektif melalui penekanan hidung yang benar. Pemahaman dokter anak mengenai klasifikasi anterior-posterior, penyebab lokal maupun sistemik, serta indikasi rujukan ke dokter spesialis THT sangat penting untuk memastikan tata laksana yang tepat. Edukasi yang jelas kepada orangtua mengenai pertolongan pertama dan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut berperan besar dalam menurunkan kecemasan keluarga sekaligus mencegah komplikasi akibat penanganan yang keliru.
Referensi
1. Tabassom A, Dahlstrom JJ. Epistaxis. [Updated 2022 Sep 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK435997/
2. The Royal Children's Hospital Melbourne. Clinical Practice Guidelines: Epistaxis [Internet]. Parkville: RCH; 2019 [cited 2026 Jul 13]. Available from: https://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/epistaxis/
3. Yan T, Goldman RD. Recurrent epistaxis in children. Can Fam Physician. 2021 Jun;67(6):427-429. doi: 10.46747/cfp.6706427. PMID: 34127465; PMCID: PMC8202740.
4. American Red Cross. Nosebleed (Epistaxis) [Internet]. Washington DC: American Red Cross; [cited 2026 Jul 13]. Available from: https://www.redcross.org/take-a-class/resou

