Berita
Dunia Diproyeksikan Gagal Mencapai Target SDG Kesehatan 2030
25 Mei 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan agenda pembangunan global yang disepakati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan target pencapaian pada tahun 2030. Dalam sektor kesehatan, SDG 3 atau “Good Health and Well-being” mencakup berbagai target penting, mulai dari penurunan angka kematian ibu dan anak, eliminasi epidemi penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, malaria, dan hepatitis, hingga pengurangan kematian akibat penyakit tidak menular serta pencapaian universal health coverage. Namun, berbagai laporan terbaru menunjukkan bahwa dunia diproyeksikan gagal mencapai sebagian besar target kesehatan SDG pada tahun 2030.
World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa progres global setelah pandemi COVID-19 mengalami perlambatan signifikan. Disrupsi layanan kesehatan, ketimpangan akses antarnegara, konflik, perubahan iklim, dan tekanan ekonomi menyebabkan berbagai indikator kesehatan bergerak terlalu lambat untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Bahkan, pada beberapa indikator, terjadi kemunduran dibanding sebelum pandemi.
Salah satu area yang paling mengkhawatirkan adalah penyakit menular. Tuberkulosis masih menjadi penyebab kematian utama akibat penyakit infeksi di dunia setelah COVID-19. WHO memperkirakan jutaan kasus TBC baru masih terjadi setiap tahun, dengan Indonesia termasuk negara dengan beban TBC tertinggi secara global. Meskipun diagnosis dan pengobatan TBC meningkat dibanding masa pandemi, laju penurunannya dinilai belum cukup cepat untuk mencapai target eliminasi SDG pada 2030.
Masalah lain adalah meningkatnya kasus drug-resistant TB resisten obat, yang mempersulit tata laksana dan meningkatkan mortalitas. Kesenjangan diagnosis juga masih besar. Banyak pasien belum terdeteksi atau terlambat mendapatkan terapi, sehingga transmisi di komunitas tetap berlangsung. Kondisi sosial seperti kemiskinan, kepadatan hunian, malnutrisi, dan akses layanan kesehatan yang tidak merata menjadi faktor penting yang menghambat pengendalian TBC di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain TBC, HIV/AIDS juga masih menjadi tantangan global besar. Walaupun angka kematian terkait HIV telah menurun dibanding dua dekade lalu berkat terapi antiretroviral, penurunan infeksi baru berlangsung terlalu lambat. WHO menyebutkan bahwa target mengakhiri epidemi AIDS pada 2030 kemungkinan besar tidak tercapai bila progres saat ini tidak dipercepat secara signifikan.
Bidang kesehatan ibu dan anak juga menunjukkan progres yang belum optimal. Penurunan angka kematian neonatal dan balita memang masih berlangsung secara global, tetapi kecepatannya tidak cukup untuk mencapai target SDG 2030. WHO memperkirakan jutaan anak tetap berisiko meninggal akibat kondisi yang sebenarnya dapat dicegah seperti prematuritas, pneumonia, diare, dan komplikasi persalinan.
Selain penyakit menular, penyakit tidak menular juga menjadi ancaman besar yang semakin meningkat. Diabetes, hipertensi, obesitas, kanker, dan penyakit kardiovaskular terus mengalami kenaikan di banyak negara. Urbanisasi, pola makan tidak sehat, polusi udara, merokok, kurang aktivitas fisik, dan populasi menua menjadi faktor pendorong utama. Beban ganda penyakit menular dan tidak menular kini menjadi tantangan nyata sistem kesehatan di negara berkembang.
WHO juga menyoroti bahwa universal health coverage (cakupan kesehatan semesta) masih jauh dari target. Miliaran orang di dunia masih mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan esensial tanpa beban finansial berat. Ketimpangan akses antara negara maju dan berkembang semakin terlihat setelah pandemi. Krisis tenaga kesehatan, keterbatasan pembiayaan, serta gangguan rantai pasok obat dan vaksin memperburuk situasi di berbagai wilayah.
Faktor perubahan iklim turut memperbesar tantangan pencapaian SDG kesehatan. Gelombang panas, banjir, kekeringan, dan perubahan pola penyakit vektor meningkatkan risiko penyakit infeksi maupun malnutrisi. WHO memperingatkan bahwa dampak kesehatan akibat perubahan iklim diperkirakan terus meningkat dalam dekade mendatang dan dapat memperlambat pencapaian target kesehatan global.
Kesimpulannya, dunia saat ini berada dalam jalur yang tidak cukup cepat untuk mencapai sebagian besar target SDG kesehatan tahun 2030. Penyakit menular seperti TBC dan HIV masih menjadi beban besar, sementara penyakit tidak menular terus meningkat. Disrupsi pascapandemi, ketimpangan layanan kesehatan, perubahan iklim, dan tantangan sosial ekonomi memperumit upaya pencapaian target global. Diperlukan penguatan sistem kesehatan, percepatan deteksi dini dan terapi penyakit menular, investasi layanan preventif, serta kolaborasi multisektoral yang lebih kuat agar target kesehatan global tidak semakin jauh tertinggal.
Daftar Pustaka
World Health Organization. World health statistics 2025: monitoring health for the SDGs, sustainable development goals. Geneva: WHO; 2025. Available from: WHO World Health Statistics 2025




