Berita
Diagnosis Rinitis Alergi pada Anak
29 Mei 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Latar Belakang
Rinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi kronik yang paling sering ditemukan pada populasi anak dan menjadi bagian penting dari spektrum penyakit atopi bersama asma, dermatitis atopik, dan alergi makanan. Penyakit ini ditandai oleh inflamasi mukosa hidung yang dimediasi imunoglobulin E (IgE) setelah pajanan alergen tertentu. Meskipun jarang mengancam jiwa, rinitis alergi memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup anak, performa akademik, kualitas tidur, hingga fungsi kognitif dan perilaku sehari-hari. (1)
Dalam praktik klinis sehari-hari, diagnosis rinitis alergi pada anak masih sering terlambat atau terlewat karena gejalanya dianggap ringan atau menyerupai infeksi saluran napas atas berulang. Padahal, identifikasi dini penting dilakukan mengingat hubungan erat rinitis alergi dengan komorbid lain seperti asma, sinusitis kronik, otitis media efusi, dan gangguan tidur. (1,2)
Definisi dan Epidemiologi
Rinitis alergi adalah inflamasi mukosa hidung yang dimediasi IgE setelah pajanan alergen, ditandai oleh gejala berupa bersin, rinore, hidung tersumbat, dan gatal hidung yang berlangsung minimal dua hari berturut-turut selama lebih dari satu jam per hari. (1)
Secara global, prevalensi rinitis alergi pada anak menunjukkan peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Meta-analisis terbaru menunjukkan prevalensi global rinitis alergi pada anak berkisar 18,1%, dengan variasi antarwilayah dan kecenderungan lebih tinggi pada negara urbanisasi tinggi. (3) Faktor lingkungan modern seperti polusi udara, paparan asap rokok, perubahan pola mikrobiota, dan peningkatan pajanan alergen indoor diduga berkontribusi terhadap peningkatan angka kejadian tersebut. (2,3)
Etiologi, Patogenesis, dan Patofisiologi
Rinitis alergi terjadi akibat interaksi kompleks antara predisposisi genetik dan faktor lingkungan. Alergen yang paling sering berperan pada anak meliputi tungau debu rumah, bulu hewan, jamur, kecoak, dan serbuk sari. (1)
Paparan alergen pada individu yang tersensitisasi akan memicu aktivasi sel dendritik dan diferensiasi limfosit T-helper 2 (Th2). Selanjutnya terjadi produksi sitokin seperti interleukin (IL)-4, IL-5, dan IL-13 yang mendorong produksi IgE oleh sel B. IgE kemudian berikatan dengan permukaan mast cell dan basofil. Pada pajanan ulang, alergen akan mengaktivasi IgE tersebut sehingga terjadi degranulasi mast cell dan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, dan prostaglandin. (2)
Respons fase awal biasanya muncul dalam beberapa menit setelah pajanan dan menyebabkan bersin, rinore, serta pruritus. Respons fase lambat terjadi beberapa jam kemudian akibat infiltrasi eosinofil dan sel inflamasi lain yang berkontribusi terhadap obstruksi hidung persisten dan inflamasi kronik mukosa. (1,2)
Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Diagnosis rinitis alergi pada anak pada dasarnya merupakan diagnosis klinis. Anamnesis yang cermat menjadi komponen terpenting dalam menegakkan diagnosis. Gejala klasik meliputi bersin berulang, rinore jernih, hidung gatal, dan sumbatan hidung yang memburuk setelah pajanan alergen tertentu. Gejala sering bersifat kronik atau rekuren dan dapat menunjukkan pola musiman maupun perennial. (1)
Anak dengan rinitis alergi juga dapat menunjukkan gejala tambahan seperti batuk kronik, postnasal drip, gangguan tidur, mendengkur, hingga penurunan konsentrasi di sekolah. Riwayat pribadi atau keluarga dengan penyakit atopi lain turut memperkuat kecurigaan klinis. (1,2)
Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan allergic shiners, allergic salute, transverse nasal crease, edema konka inferior, dan sekret hidung jernih. Mukosa hidung umumnya tampak pucat atau kebiruan akibat kongesti kronik. (1)
Klasifikasi ARIA membagi rinitis alergi berdasarkan durasi dan derajat keparahan menjadi intermiten atau persisten, serta ringan atau sedang-berat. Berikut klasifikasi baku berdasarkan pembagian tersebut:
Berdasarkan frekuensi gejala:
- Intermiten: gejala muncul <4 hari/minggu atau <4 minggu berturut-turut
- Persisten: gejala muncul ≥4 hari/minggu dan ≥4 minggu berturut-turut . (1)
Berdasarkan derajat keparahan:
- Ringan: tidak mengganggu tidur, aktivitas harian, sekolah, olahraga, atau kualitas hidup
- Sedang-berat: terdapat gangguan tidur, aktivitas, performa sekolah, atau gejala dirasa mengganggu pasien .
Tiap pasien rinitis alergi bisa diklasifikasikan berdasarkan kombinasi deskripsi di atas:
- Intermiten ringan
- Intermiten sedang-berat
- Persisten ringan
- Persisten sedang-berat . (1)
Pemeriksaan penunjang tidak selalu diperlukan untuk menegakkan diagnosis, terutama bila gambaran klinis sudah khas. Namun, pemeriksaan dapat membantu mengidentifikasi alergen spesifik dan mendukung diagnosis pada kasus tertentu. Skin prick test dan pemeriksaan IgE spesifik serum merupakan modalitas utama untuk mendeteksi sensitisasi alergen. (1,2)
Pemeriksaan lain seperti hitung eosinofil atau IgE total memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih rendah sehingga tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin tunggal. Endoskopi hidung atau pencitraan hanya dipertimbangkan bila dicurigai diagnosis banding atau komplikasi seperti sinusitis kronik dan polip nasi. (1)
Tata Laksana
Pendekatan tata laksana rinitis alergi mencakup edukasi, kontrol lingkungan, farmakoterapi, dan pada kasus tertentu imunoterapi alergen. Edukasi keluarga mengenai identifikasi dan penghindaran alergen merupakan langkah penting dalam mengurangi paparan berulang. (1)
Kortikosteroid intranasal tetap menjadi terapi lini utama untuk gejala sedang hingga berat karena efektif mengontrol inflamasi mukosa hidung dan memperbaiki obstruksi nasal. Antihistamin generasi kedua dapat digunakan terutama pada gejala dominan berupa bersin, rinore, dan pruritus karena profil sedasinya lebih rendah dibanding generasi pertama. (1,2)
Irigasi saline dapat membantu memperbaiki gejala dan kualitas mukosa hidung sebagai terapi tambahan. Pada pasien dengan gejala persisten yang tidak terkontrol optimal atau dengan sensitisasi alergen jelas, imunoterapi alergen dapat dipertimbangkan sebagai pendekatan disease-modifying therapy. (1)
Kesimpulan
Rinitis alergi pada anak merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering dijumpai dan dapat memberikan dampak luas terhadap kualitas hidup maupun fungsi sehari-hari anak. Diagnosis terutama ditegakkan secara klinis melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yang khas, sementara pemeriksaan penunjang digunakan secara selektif untuk mendukung identifikasi alergen. Pemahaman mengenai mekanisme imunologis, manifestasi klinis, serta prinsip tata laksana yang komprehensif penting dimiliki dokter anak agar diagnosis dapat ditegakkan lebih dini dan kontrol penyakit tercapai secara optimal.
Daftar Pustaka
- Goniotakis I, Perikleous E, Fouzas S, Steiropoulos P, Paraskakis E. A clinical approach of allergic rhinitis in children. Children (Basel). 2023;10(9):1571.
- Nur Husna SM, Tan HT, Md Shukri N, Mohd Ashari NS, Wong KK. Allergic rhinitis: a clinical and pathophysiological overview. Front Med (Lausanne). 2022;9:874114.
- Licari A, Magri P, De Silvestri A, Giannetti A, Indolfi C, Mori F, et al. Epidemiology of allergic rhinitis in children: a systematic review and meta-analysis. J Allergy Clin Immunol Pract. 2023;11(8):2547-2556.




