Dot Grid

Berita

​Diagnosis AIDS pada Anak

​Diagnosis AIDS pada Anak

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan manifestasi lanjut dari infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang ditandai dengan kerusakan sistem imun progresif dan meningkatkan risiko infeksi oportunistik, malignansi, serta komplikasi multisistem. Transmisi pada anak terutama melalui penularan vertikal selama kehamilan, persalinan, atau melalui Air Susu Ibu (ASI) . 

Di Indonesia, HIV pada anak merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena angka penularan ibu-ke-anak masih tinggi dan diagnosis sering terlambat ditegakkan. Penyakit ini penting dipelajari karena perjalanan penyakit pada anak, khususnya bayi di bawah usia 12 bulan, lebih cepat progresif dibandingkan orang dewasa, sehingga keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko mortalitas secara signifikan .  Deteksi dini dan tatalaksana segera termasuk terapi antiretroviral (ARV) terbukti menurunkan angka kematian dan memperbaiki kualitas hidup . 


Kapan Harus Mencurigai HIV/AIDS pada Anak

Kasus HIV pada anak sering terlewat karena gejala bersifat tidak spesifik dan menyerupai penyakit infeksi berat umum. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu memiliki strategi penemuan kasus (case-finding) untuk menentukan siapa yang perlu menjalani pemeriksaan HIV. Pemeriksaan HIV harus dipertimbangkan pada setiap anak sakit dengan kondisi yang berkaitan dengan HIV seperti tuberkulosis berat, TB yang memerlukan terapi berulang, pneumonia berulang, diare kronik atau berulang, malnutrisi berat yang tidak membaik dengan tatalaksana standar, atau infeksi oportunistik . (1)

Kecurigaan juga perlu diarahkan pada bayi lahir dari ibu dengan HIV, anak yang salah satu saudara kandungnya terdiagnosis HIV atau meninggal tanpa penyebab jelas, anak yang mendapat transfusi darah berulang, anak dengan pajanan jarum suntik terkontaminasi, serta pada anak korban kekerasan seksual . Bayi dan anak dalam kelompok tersebut memerlukan pemeriksaan segera untuk menentukan status infeksi. (1) 


Prinsip Diagnosis HIV pada Bayi dan Anak

Diagnosis HIV pada anak berbeda dari dewasa karena antibodi maternal terhadap HIV dapat bertahan hingga usia 18 bulan dan menyebabkan hasil pemeriksaan serologis menjadi positif palsu . (1) Oleh karena itu, pemilihan metode diagnostik bergantung pada usia anak.

Diagnosis pada bayi dan anak < 18 bulan

Pemeriksaan virologis merupakan metode utama untuk menegakkan diagnosis karena mampu mendeteksi keberadaan virus atau komponen virus. Pemeriksaan direkomendasikan pada usia 4–6 minggu atau sesegera mungkin bila dicurigai infeksi .  Bila hasil pemeriksaan virologis pertama positif, ARV harus segera dimulai sambil menunggu pemeriksaan ulang untuk konfirmasi . (1)

Apabila pemeriksaan virologis tidak tersedia, diagnosis dapat ditegakkan secara presumtif berdasarkan kombinasi gejala klinis berat seperti Pneumocystis jiroveci pneumonia (PCP), meningitis kriptokokus, kandidiasis esofagus, toksoplasmosis, atau malnutrisi berat yang tidak membaik . Pada anak yang sedang mendapat ASI, pemeriksaan diagnostik tidak perlu menunggu penghentian ASI; namun interpretasi status infeksi hanya dapat dipastikan setelah enam minggu pasca penghentian ASI . (1)


Diagnosis pada anak > 18 bulan

Pemeriksaan serologis dapat digunakan sebagai metode konfirmasi. Rapid test dengan hasil reaktif harus dilanjutkan dengan dua tes serologi berbeda; bila tetap reaktif maka diagnosis HIV ditegakkan dan terapi ARV harus diberikan . Bila masih mendapat ASI, hasil hanya dapat diinterpretasi akurat setelah enam minggu pasca penghentian ASI . (1)


Diagnosis AIDS dan Stadium Klinis WHO

Setelah infeksi HIV terkonfirmasi, AIDS ditentukan berdasarkan berat gejala klinis dan status imunologis menggunakan klasifikasi WHO.

Stadium Klinis WHO :

 Stadium 1: Asimtomatik

 Stadium 2: Ringan

 Stadium 3: Sedang

 Stadium 4: Berat (AIDS)

Status imunologi ditentukan berdasarkan kadar CD4; menggunakan persentase CD4 untuk anak < 5 tahun dan nilai absolut CD4 untuk usia ≥ 5 tahun . (1)


Tatalaksana Awal dan Prinsip Penatalaksanaan

Setiap anak dengan diagnosis HIV terkonfirmasi harus segera mendapat ARV tanpa menunggu gejala atau hasil CD4, terutama usia < 5 tahun . Profilaksis kotrimoksazol dianjurkan untuk mencegah PCP dan menurunkan angka mortalitas . Pemeriksaan lanjutan termasuk evaluasi infeksi penyerta, status nutrisi, penilaian perkembangan, serta konseling keluarga sangat penting sebagai bagian dari perawatan komprehensif.Keputusan pemeriksaan HIV pada anak harus disertai persetujuan orangtua atau wali yang sah secara hukum, seperti kakek-nenek atau orangtua asuh . 


Kesimpulan

Diagnosis AIDS pada anak memerlukan pemahaman yang baik mengenai kapan harus mencurigai HIV, metode diagnostik berdasarkan usia, serta alur pemeriksaan yang tepat. Penggunaan uji virologis pada anak < 18 bulan merupakan kunci untuk menegakkan diagnosis pasti, sementara uji serologis dapat digunakan setelah usia 18 bulan. Terapi ARV harus diberikan segera setelah diagnosis untuk mencegah progresi penyakit dan menurunkan mortalitas. Peran dokter anak sangat penting dalam memastikan deteksi dini, edukasi keluarga, serta dukungan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup anak dengan HIV.


Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penerapan Terapi HIV pada Anak. Jakarta: Kemenkes RI; 2014. Hal 1-7


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan