Berita
BRIN: 1 dari 7 Anak di Indonesia Terpapar Timbal

Latar Belakang
Survei Kadar Timbal Darah (SKTD) yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkap fakta yang patut menjadi perhatian serius: 1 dari 7 anak di Indonesia terpapar timbal. Angka ini menunjukkan bahwa paparan logam berat masih menjadi masalah kesehatan lingkungan yang nyata dan berpotensi berdampak luas pada tumbuh kembang anak.
Dampak Paparan Timbal
Paparan timbal tidak hanya berkaitan dengan anemia akibat gangguan sintesis heme, tetapi juga berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan, termasuk risiko stunting, serta dampak neurotoksik berupa penurunan fungsi kognitif yang bersifat permanen. Dalam banyak kasus, paparan ini berlangsung tanpa gejala spesifik, sehingga sering terlewat dalam praktik klinis sehari-hari. (1)
Sumber Paparan Timbal
Sumber kontaminasi timbal di lingkungan sangat beragam, terutama berasal dari aktivitas industri seperti pertambangan, peleburan (smelting), manufaktur, dan proses daur ulang. Secara global, penggunaan timbal terbesar saat ini adalah untuk produksi baterai timbal-asam pada kendaraan bermotor.
Selain itu, timbal juga ditemukan pada berbagai produk sehari-hari, antara lain pigmen dan cat, solder, kaca patri (stained glass), kristal, amunisi, glasir keramik, perhiasan, mainan anak, serta beberapa kosmetik dan obat tradisional. Kontaminasi juga dapat terjadi pada air minum, terutama melalui sistem perpipaan yang masih menggunakan pipa, sambungan (solder), atau fitting yang mengandung timbal. (3)
Paparan timbal juga dapat terjadi melalui makanan. Kemungkinan ini perlu dipertimbangkan, khususnya dengan adanya berita mengenai laporan penggunaan bahan baku tidak aman dalam pangan, salah satunya dugaan penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan siomay, yang diketahui berpotensi mengandung logam berat seperti timbal dan merkuri. Temuan ini menjadi pengingat bahwa sumber paparan timbal tidak hanya berasal dari lingkungan, tetapi juga dapat masuk melalui rantai makanan, terutama jika bahan pangan berasal dari perairan yang terkontaminasi. (4)
Anak Lebih Rentan dari Orang Dewasa untuk Terpapar Timbal
Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap paparan timbal, baik dari sisi biologis maupun perilaku. (2)
Secara fisiologis, ukuran tubuh yang lebih kecil membuat dosis paparan yang sama menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi dalam tubuh dibandingkan orang dewasa. Selain itu, sistem organ, terutama sistem saraf pusat, masih berada dalam fase perkembangan aktif, sehingga lebih sensitif terhadap efek toksik timbal. (2)
Tingkat absorpsi timbal di saluran cerna anak juga cenderung lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Kondisi ini dapat diperburuk oleh defisiensi mikronutrien seperti zat besi atau kalsium, yang dapat meningkatkan penyerapan timbal. (2)
Anak kecil yang masih dalam fase eksplorasi memiliki kecenderungan untuk memasukkan tangan atau benda ke dalam mulut (hand-to-mouth behavior). Perilaku ini meningkatkan risiko paparan dari debu, tanah, atau permukaan yang terkontaminasi. Inilah yang menjadikan lingkungan rumah tangga sebagai salah satu sumber paparan yang sering tidak disadari. (2)
Penanggulangan Paparan Timbal
Pengendalian paparan timbal tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan koordinasi lintas sektor yang meliputi kesehatan, lingkungan, industri, hingga perdagangan, untuk menghasilkan kebijakan yang berkelanjutan. Langkah ini diharapkan dapat mendukung penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia Bebas Timbal, sebagai strategi jangka panjang dalam melindungi kesehatan anak Indonesia.
Hal ini memerlukan komitmen yang tinggi dari pemangku kebijakan lintas sektor. Temuan SKTD memberikan dasar kuat untuk merumuskan strategi nasional, termasuk penguatan kebijakan kesehatan lingkungan dan pengendalian sumber paparan. Upaya ini mencakup pembangunan sistem surveilans kadar timbal darah secara berkelanjutan, pencatatan kasus, serta pemetaan wilayah berisiko untuk menentukan prioritas intervensi.
Sejalan dengan rekomendasi WHO, pendekatan utama dalam penanggulangan paparan timbal bukan hanya terapi medis seperti chelation, dekontaminasi gastrointestinal, dan suplementasi zat besi atau kalsium, tetapi juga pencegahan dan eliminasi sumber paparan sejak dini, mengingat tidak ada batas aman paparan pada anak. Pada kadar timbal darah ≥5 µg/dL, diperlukan investigasi lingkungan untuk mengidentifikasi dan menghentikan sumber paparan guna mencegah paparan berulang. Oleh karena itu, kebijakan yang dikembangkan harus mampu mengintegrasikan aspek surveilans, deteksi dini, serta intervensi lingkungan secara komprehensif.
Kesimpulan dan Penutup
Tingginya angka paparan timbal pada anak di Indonesia menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga tantangan klinis yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari dokter anak.
Kerentanan anak terhadap timbal, baik dari faktor biologis maupun perilaku, membuat dampaknya jauh lebih signifikan dibandingkan kelompok usia lain. Ditambah dengan potensi paparan dari sumber yang tidak terduga, termasuk pangan, pendekatan pencegahan menjadi semakin krusial.
Peran dokter anak tidak hanya terbatas pada diagnosis dan terapi, tetapi juga mencakup edukasi keluarga serta advokasi terhadap lingkungan yang lebih aman bagi anak. Dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat, dampak jangka panjang paparan timbal dapat diminimalkan.
Ingin tahu tata laksananya? Pantau timeline artikel PrimaPro!
Daftar Pustaka
- Badan Riset dan Inovasi Nasional. Satu dari tujuh anak Indonesia terpapar timbal: riset BRIN dorong penguatan kebijakan kesehatan lingkungan. Tersedia pada: https://brin.go.id/ork/posts/kabar/satu-dari-tujuh-anak-indonesia-terpapar-timbal-riset-brin-dorong-penguatan-kebijakan-kesehatan-lingkungan
- Hauptman M, Bruccoleri R, Woolf AD. An Update on Childhood Lead Poisoning. Clin Pediatr Emerg Med. 2017;18(3):181–192. doi:10.1016/j.cpem.2017.07.010
- World Health Organization. Childhood lead poisoning. Geneva: WHO; 2010. Tersedia pada: https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/47967c06-bfa9-44b8-9f2b-52f04a353c05/content
- Tribunnews. Ikan sapu-sapu dijadikan siomay, Wali Kota Jaktim peringatkan bahaya timbal dan merkuri. Jakarta: Tribunnews; [cited 2026 Apr 30]. Available from: https://jakarta.tribunnews.com/jakarta/433831/ikan-sapu-sapu-dijadikan-siomay-wali-kota-jaktim-peringatkan-bahaya-timbal-dan-merkur

