Berita
Berikut Bias Kognitif yang Berperan dalam Menciptakan Keraguan Vaksin

Latar Belakang
Dalam beberapa tahun terakhir, keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy) semakin sering muncul dan mendapatkan amplifikasi melalui berbagai platform media. Paparan informasi yang tidak terkurasi, dikombinasikan dengan pengalaman personal dan narasi emosional, membentuk cara pandang masyarakat terhadap vaksinasi. Padahal, secara ilmiah, manfaat dan keamanan vaksin telah dibuktikan melalui berbagai studi selama puluhan tahun. (1)
Salah satu faktor yang berperan dalam fenomena ini adalah keberadaan bias kognitif, yaitu pola pikir sistematis yang memengaruhi cara individu memproses informasi dan mengambil keputusan. Memahami bias kognitif menjadi penting bagi dokter anak, karena dapat membantu mengidentifikasi akar keraguan pasien serta menyusun strategi komunikasi yang lebih efektif dan empatik dalam menyampaikan informasi berbasis bukti. (1)
Peran Bias Kognitif dalam Vaccine Hesitancy
Bias kognitif merupakan mekanisme mental yang secara evolusioner membantu individu mengambil keputusan dengan cepat, namun dalam konteks modern dapat menyebabkan distorsi dalam penilaian risiko dan manfaat. Dalam isu vaksinasi, berbagai jenis bias kognitif telah diidentifikasi berkontribusi terhadap keraguan vaksin. (1)
Availability bias membuat individu menilai risiko berdasarkan informasi yang mudah diingat, seperti kasus efek samping yang viral, meskipun jarang terjadi. Sebaliknya, manfaat vaksin yang bersifat populasi dan jangka panjang menjadi kurang “terasa nyata”. Selain itu, confirmation bias mendorong individu untuk mencari dan mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan awal, serta mengabaikan bukti ilmiah yang bertentangan. (1)
Omission bias juga berperan, di mana orang tua cenderung memilih tidak melakukan tindakan karena merasa risiko dari tindakan aktif lebih “bertanggung jawab” dibandingkan risiko akibat tidak bertindak. Dalam konteks ini, efek samping vaksin dipersepsikan sebagai konsekuensi langsung keputusan orang tua, sementara risiko penyakit dianggap di luar kendali. (1)
Framing effect dan anchoring bias turut memperkuat distorsi ini. Cara penyampaian informasi sangat memengaruhi persepsi, sementara paparan awal terhadap narasi tertentu dapat menjadi acuan yang sulit diubah. (1)
Beberapa individu lebih rentan terhadap bias kognitif. Faktor seperti rendahnya kemampuan untuk berpikir secara analitik, kecenderungan terhadap teori konspirasi, dan keterbatasan literasi kesehatan semakin memperkuat keraguan vaksin. Jenis bias kognitif yang dimiliki tiap orang pun berbeda-beda. Hal ini menjelaskan mengapa pendekatan komunikasi yang seragam sering kali tidak efektif. (1,2)
Implikasi Klinis dan Strategi Komunikasi
Dalam praktik klinis, penyampaian data ilmiah saja sering kali tidak cukup untuk mengubah keyakinan yang telah terbentuk melalui proses kognitif dan emosional. Oleh karena itu, strategi komunikasi perlu disesuaikan dengan cara berpikir pasien dan mempertimbangkan aspek emosional, terutama rasa takut. (3)
Komunikasi harus dimulai dari hal yang paling mendasar: membuat informasi mudah diakses dan mudah dipahami. Namun yang lebih penting, dokter perlu mengakui bahwa ketakutan orang tua adalah valid dan merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan. Ketakutan ini tidak boleh diabaikan atau langsung disangkal, melainkan perlu ditanggapi dengan empati, sambil tetap memberikan penjelasan yang jujur dan proporsional mengenai manfaat dan risiko vaksin. (3)
Sebagaimana direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics, pendekatan terhadap orang tua dengan keraguan vaksin harus dimulai dengan mendengarkan secara aktif, memahami kekhawatiran utama, dan memberikan rekomendasi yang jelas serta konsisten sebagai tenaga kesehatan yang dipercaya. Pendekatan ini penting karena sebagian besar orang tua tidak sepenuhnya menolak vaksin, melainkan berada dalam fase mencari kepastian. (4)
Dalam praktik sehari-hari, perbedaan pendekatan komunikasi dapat sangat memengaruhi respons orang tua. Sebagai contoh, ketika orang tua mengatakan:
“Dok, saya takut anak saya demam atau kenapa-kenapa setelah vaksin.”
Respons yang kurang tepat adalah:
“Ah, itu cuma demam biasa. Jangan dibesar-besarkan.” atau
“Ibu jangan percaya hoaks.”
Pendekatan ini cenderung mengabaikan emosi dan dapat memperkuat resistensi. Sebaliknya, pendekatan yang lebih efektif adalah:
“Wajar sekali Ibu merasa khawatir. Banyak orang tua juga merasakan hal yang sama.”
Dilanjutkan dengan penjelasan sederhana dan bertahap:
“Memang bisa terjadi demam ringan, tapi itu tanda tubuh sedang membentuk perlindungan. Justru yang kita khawatirkan adalah penyakit yang bisa jauh lebih berat jika anak tidak terlindungi.”
Pendekatan ini membantu membangun kepercayaan, menurunkan defensiveness, dan membuka ruang bagi penerimaan informasi baru. (2,3,4)
Selain itu, penggunaan framing yang tepat, narasi yang relevan, serta komunikasi yang disesuaikan dengan profil individu (tailored communication) terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan one-size fits all. Peran tenaga kesehatan di lini terdepan menjadi sangat krusial, karena rekomendasi dokter tetap merupakan faktor paling berpengaruh dalam keputusan vaksinasi. (2,3)
Kesimpulan dan Penutup
Bias kognitif merupakan determinan penting dalam keraguan vaksin yang memengaruhi cara individu memahami dan menilai informasi kesehatan. Interaksi antara bias kognitif, faktor psikologis, dan literasi kesehatan menciptakan tantangan kompleks dalam praktik klinis.
Oleh karena itu, dokter anak perlu mengintegrasikan pemahaman mengenai bias ini dalam strategi komunikasi yang empatik, adaptif, dan berbasis bukti. Pendekatan yang tidak hanya informatif tetapi juga memahami aspek emosional pasien diharapkan dapat meningkatkan penerimaan vaksin serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi.
Daftar Pustaka
- Raj A, Singh AK, Wagner AL, Boulton ML. Mapping the Cognitive Biases Related to Vaccination: A Scoping Review of the Literature. Vaccines (Basel). 2023;11(12):1837.
- Casigliani V, Menicagli D, Fornili M, Lippi V, Chinelli A, Stacchini L, et al. Vaccine hesitancy and cognitive biases: Evidence for tailored communication with parents. Vaccine X. 2022;11:100191.
- Di Lorenzo A, Stefanizzi P, Tafuri S. Are we saying it right? Communication strategies for fighting vaccine hesitancy. Front Public Health. 2024;11:1323394.
- American Academy of Pediatrics. Talking with vaccine hesitant parents. Available from: https://www.aap.org/en/patient-care/immunizations/communicating-with-families-and-promoting-vaccine-confidence/talking-with-vaccine-hesitant-parents/

