Berita
Berapa Lama Anak Perlu Tidur Tiap Harinya?
24 Desember 2025
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Latar Belakang
Tidur merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan fisik dan mental anak. Proses tidur tidak hanya memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat, tetapi juga memfasilitasi pemulihan, konsolidasi memori, dan pengaturan emosi. Selama tidur, tubuh manusia melewati dua fase utama, yaitu fase gerakan mata cepat, atau Rapid Eye Movement (REM) dan fase non-gerakan mata cepat, atau Non-Rapid Eye Movement (NREM). Fase NREM terdiri dari tiga tahapan, yaitu N1, N2, dan N3, yang menggambarkan kedalaman tidur yang berbeda. Selama siklus tidur, tubuh akan bergerak melalui semua tahapan ini sekitar empat hingga enam kali setiap malam, dengan durasi siklus tidur rata-rata 90 menit. Durasi tidur dan siklus ini sangat penting dalam mendukung perkembangan anak, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Tidur yang cukup pada anak-anak penting untuk mendukung pertumbuhan otak, kesehatan fisik, dan kesejahteraan emosional mereka. Durasi dan kualitas tidur yang optimal bervariasi sesuai dengan usia anak dan kebutuhan perkembangan mereka. Oleh karena itu, penting untuk memahami fisiologi tidur dan dampak kekurangan tidur pada anak dalam memberikan perawatan yang optimal bagi pasien muda mereka. (1)
Fisiologi Tidur pada Anak
Pada bayi baru lahir hingga usia satu tahun, tidur mereka terbagi secara merata antara siang dan malam. Mereka tidur sekitar 16 hingga 18 jam per hari dalam periode tidur yang terputus-putus, dengan durasi tidur yang terus-menerus biasanya berkisar antara 2,5 hingga 4 jam. Bayi pada periode ini memiliki tiga jenis tidur: tidur tenang (mirip dengan NREM), tidur aktif (mirip dengan REM), dan tidur yang tidak dapat dipastikan. Perbedaan besar pada bayi adalah bahwa mereka memulai tidur melalui fase REM, bukan NREM, yang berbeda dengan pola tidur pada anak-anak dan orang dewasa. Pada usia 2 hingga 3 bulan, ritme sirkadian mulai berkembang, dan bayi mulai tidur lebih lama di malam hari dengan durasi tidur yang lebih panjang. Sekitar usia 6 bulan, episode tidur terpanjang meningkat menjadi sekitar 6 jam, dan pada usia 12 bulan, bayi tidur sekitar 14 hingga 15 jam setiap hari, dengan sebagian besar tidur terjadi pada malam hari. Durasi tidur yang terus berkurang seiring bertambahnya usia anak mempengaruhi kualitas dan pola tidur mereka, yang akan berbeda pada usia balita hingga anak-anak yang lebih besar. (1)
Pada usia 5 tahun, kebutuhan tidur berkurang menjadi 11 jam. Anak-anak pada usia ini mulai menunjukkan preferensi fase tidur sirkadian, seperti menjadi "burung hantu malam" atau lebih suka bangun pagi. Pada usia 6 tahun, anak-anak mulai menunjukkan latensi REM yang lebih panjang daripada remaja, yang menyebabkan mereka menghabiskan lebih banyak waktu di tahap N3, yang merupakan tahap tidur yang paling dalam dan restoratif. Tidur yang cukup sangat penting dalam masa perkembangan ini, karena otak anak sedang membentuk dasar-dasar kemampuan kognitif dan emosional. Gangguan tidur, seperti tidur yang terfragmentasi atau kurang tidur, dapat berdampak pada kemampuan mereka untuk fokus, belajar, dan mengatur emosi, yang berpotensi menyebabkan masalah dalam perkembangan sosial dan akademik mereka. (1)
Dampak Buruk Kekurangan Tidur pada Anak
Kekurangan tidur pada anak dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, baik dari segi fisik, kognitif, maupun perilaku. Kurang tidur berhubungan erat dengan peningkatan risiko obesitas, yang terjadi akibat gangguan dalam regulasi hormon yang mengatur nafsu makan. Ketidakseimbangan hormon leptin dan ghrelin, yang mengontrol rasa lapar dan kenyang, dapat menyebabkan peningkatan nafsu makan pada anak, terutama terhadap makanan tinggi kalori. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik lainnya. Selain itu, tidur yang tidak cukup juga dapat mempengaruhi metabolisme glukosa, meningkatkan resistensi insulin, dan mengarah pada peningkatan risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari. Ini terjadi karena gangguan pada pengaturan hormon dan proses fisiologis yang mengatur penggunaan energi tubuh. (2)
Selain gangguan fisik, kekurangan tidur juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif anak. Tidur berperan penting dalam konsolidasi memori, yaitu proses di mana informasi baru diproses dan disimpan dalam otak. Kurang tidur mengganggu proses ini, yang mengarah pada penurunan kemampuan anak untuk mengingat informasi, fokus, dan menyelesaikan tugas yang membutuhkan perhatian. Penurunan kualitas tidur juga memengaruhi fungsi eksekutif otak, yang mencakup kemampuan untuk merencanakan, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. Kurang tidur dapat memperburuk kesulitan anak dalam memahami konsep baru dan menyelesaikan tugas-tugas akademik mereka. Selain itu, kurang tidur juga dapat menyebabkan peningkatan rasa kantuk di siang hari, yang mengurangi kinerja anak di sekolah dan mempengaruhi aktivitas sosial mereka. (2)
Dampak emosional dari kekurangan tidur juga tidak kalah penting. Kurang tidur dapat menyebabkan peningkatan gejala perilaku eksternal seperti hiperaktif, agresi, dan ketidakmampuan untuk mengatur emosi. Tidur yang tidak cukup juga berhubungan dengan gangguan internalisasi seperti kecemasan dan depresi. Kekurangan tidur meningkatkan kecenderungan anak untuk menunjukkan perilaku impulsif, frustrasi, atau mudah tersinggung, serta kesulitan dalam mengontrol emosi mereka. Perubahan mood yang sering terjadi akibat kurang tidur juga berpotensi memengaruhi interaksi sosial anak dan hubungan mereka dengan teman sebaya, yang berisiko menyebabkan isolasi sosial dan gangguan sosial lainnya. (2)
Mekanisme Biologis Dampak Kekurangan Tidur pada Anak
Kekurangan tidur mempengaruhi berbagai sistem biologis yang penting untuk kesehatan dan kesejahteraan anak. Salah satu mekanisme utama yang terlibat adalah gangguan pada pengaturan hormon yang mengatur rasa lapar dan nafsu makan. Leptin, yang berfungsi untuk menekan rasa lapar, menurun, sementara kadar ghrelin yang merangsang rasa lapar meningkat. Ketidakseimbangan ini menyebabkan peningkatan nafsu makan yang berujung pada konsumsi makanan berlebih, khususnya makanan dengan kalori tinggi, yang meningkatkan risiko obesitas pada anak-anak. (2)
Selain itu, tidur yang cukup sangat penting untuk konsolidasi memori. Kurang tidur mengganggu proses pengolahan dan penyimpanan informasi baru dalam otak, yang mengarah pada penurunan kemampuan kognitif. Gangguan pada sistem saraf pusat juga mempengaruhi pengaturan suasana hati, kontrol impulsif, serta kemampuan berpikir logis, yang pada gilirannya mempengaruhi kemampuan anak untuk mengatasi masalah dan berinteraksi secara sosial dengan baik. (2)
Rekomendasi untuk Tatalaksana Tidur pada Anak
Sebagai dokter anak, penting untuk selalu memantau pola tidur anak secara rutin, terutama pada masa perkembangan awal. Pengawasan terhadap durasi dan kualitas tidur anak, serta mengedukasi orang tua tentang pentingnya rutinitas tidur yang konsisten, dapat membantu mencegah gangguan tidur yang berkelanjutan. Menghindari faktor-faktor yang mengganggu tidur seperti penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur atau lingkungan tidur yang tidak nyaman sangat penting untuk meningkatkan kualitas tidur anak. (2)
Menurut Konsensus American Academy of Sleep Medicine, yang didukung oleh American Academy of Pediatrics, berikut rekomendasi durasi tidur bagi anak:
- Usia 4-12 bulan: 12-16 jam (termasuk tidur siang)
- Usia 1-2 tahun: 11-14 jam (termasuk tidur siang)
- Usia 3-5 tahun: 10-13 jam (termasuk tidur siang)
- Usia 6-12 tahun: 9-12 jam
- Usia 13-18 tahun: 8-10 jam (3,4)
Kesimpulan dan Penutup
Tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting dalam mendukung perkembangan fisik, kognitif, dan emosional anak. Kekurangan tidur dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan anak, termasuk kesehatan fisik, kemampuan belajar, serta kesejahteraan emosional mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi dokter anak untuk memantau dan memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya tidur yang cukup dan berkualitas untuk mendukung perkembangan optimal anak-anak mereka.
Referensi
- Liu J, Ji X, Pitt S, Wang G, Rovit E, Lipman T, Jiang F. Childhood sleep: physical, cognitive, and behavioral consequences and implications. World J Pediatr. 2024 Feb;20(2):122-132. doi: 10.1007/s12519-022-00647-w. Epub 2022 Nov 23. PMID: 36418660; PMCID: PMC9685105.
- Patel AK, Reddy V, Shumway KR, et al. Physiology, Sleep Stages. [Updated 2024 Jan 26]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526132/.
- Paruthi S, Brooks LJ, D'Ambrosio C, Hall WA, Kotagal S, Lloyd RM, Malow BA, Maski K, Nichols C, Quan SF, Rosen CL, Troester MM, Wise MS. Recommended Amount of Sleep for Pediatric Populations: A Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine. J Clin Sleep Med. 2016 Jun 15;12(6):785-6. doi: 10.5664/jcsm.5866. PMID: 27250809; PMCID: PMC4877308.
- Jenco M. AAP endorses new recommendations on sleep times. AAP News. 2016 Jun 13. Available from: https://publications.aap.org/aapnews/news/6630/AAP-endorses-new-recommendations-on-sleep-times




