Dot Grid

Berita

​Bacteriophage: Harapan Baru di Tengah Krisis Resistensi Antibiotik

​Bacteriophage: Harapan Baru di Tengah Krisis Resistensi Antibiotik

Latar Belakang

Resistensi antibiotik merupakan salah satu ancaman kesehatan global yang paling mendesak pada abad ke-21. Fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru, ia telah ada sejak era pertama kali antibiotik ditemukan. Penicillin, antibiotik pertama yang berhasil diproduksi secara massal, mulai menunjukkan tanda-tanda resistensi terhadap penicillin mulai dilaporkan segera setelah penggunaannya meluas pada era 1940-an. (1) Pola ini berulang pada hampir setiap kelas antibiotik yang dikembangkan setelahnya, menciptakan sebuah perlombaan senjata biologis antara inovasi farmasi dan adaptasi mikroorganisme. (1-3)

Secara global, resistensi antibiotik terus meningkat dengan laju yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2021, resistensi antimikroba bakteri dikaitkan dengan estimasi 4,71 juta kematian, termasuk 1,14 juta yang secara langsung disebabkan oleh infeksi resisten. Tanpa intervensi yang efektif, ancaman ini diproyeksikan mampu merenggut hingga 10 juta jiwa per tahun pada tahun 2050. (2) Beban finansialnya pun tidak kalah besar; Bank Dunia memproyeksikan dampak tahunan hingga 159 miliar dolar AS pada tahun 2050. (3)

Berbagai upaya inovasi telah dilakukan untuk mengatasi resistensi ini, namun laju pengembangan antibiotik baru kalah cepat dibandingkan munculnya resistensi baru. Terdapat stagnasi nyata dalam inovasi antibiotik, dengan sangat sedikit kelas baru yang diperkenalkan selama dua dekade terakhir, terutama terhadap organisme gram-negatif. Di tengah kebuntuan ini, sejumlah ilmuwan menoleh ke masa lalu untuk menemukan solusi masa depan: bacteriophage. (3)


Bacteriophage: Definisi dan Mekanisme Kerja

Bacteriophage, atau disingkat phage, adalah virus yang secara selektif menginfeksi dan membunuh bakteri. Entitas biologis alami ini merupakan salah satu organisme paling berlimpah di bumi, memainkan peran krusial dalam mengatur populasi bakteri dan memengaruhi ekosistem mikroba. Kata "bacteriophage" secara harfiah berarti "pemakan bakteri," yang secara tepat menggambarkan mekanisme kerjanya. (1)

Phage yang digunakan dalam terapi adalah phage yang bersifat litik (lytic), artinya mereka menginfeksi dan menghancurkan sel bakteri, sehingga secara efektif mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Mekanisme ini membedakan phage dari antibiotik konvensional dalam beberapa aspek penting. Pertama, phage memiliki spesifisitas tinggi terhadap inang bakterinya, mereka tidak menginfeksi sel manusia dan dapat menargetkan serta membunuh bakteri penyebab penyakit tanpa mengganggu mikrobiota normal tubuh atau menimbulkan efek samping yang signifikan. Kedua, terapi phage dapat disesuaikan dengan infeksi bakteri individual, terutama yang resisten terhadap antibiotik. Beberapa phage bahkan dapat dikombinasikan untuk membentuk campuran (cocktail) yang menargetkan sebagian besar infeksi umum, atau digunakan bersama antibiotik untuk meningkatkan efektivitas terapi. Oleh karenanya, dalam dunia medis, phage sering disebut sebagai modalitas "personalized medicine", sekelompok terapi yang diadaptasi secara individual untuk setiap pasien. (1)


Penggunaan Klinis dan Bukti Efektivitas

Terapi phage bukanlah konsep baru. Banyak negara di Eropa bagian timur, khususnya Georgia dan Rusia, telah menggunakan phage therapy selama lebih dari 100 tahun. (1) Di kawasan ini, phage digunakan secara lebih luas sebagai pengobatan infeksi bakteri, terutama ketika antibiotik gagal. Eliava Institute di Tbilisi, Georgia, merupakan salah satu pusat penelitian dan aplikasi phage therapy tertua dan paling diakui di dunia, yang telah menangani lebih dari 8.400 pasien dari seluruh dunia dengan terapi phage yang dipersonalisasi sejak tahun 2018 saja. (2)

Studi-studi klinis dan laporan kasus telah mendokumentasikan keberhasilan terapi phage dalam mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten obat. Kasus-kasus yang berhasil ditangani meliputi infeksi oleh Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Escherichia coli yang resisten terhadap berbagai antibiotik. (1) Evaluasi komprehensif secara in vitro dan in vivo yang dilakukan oleh Mehta et al. (2025) menunjukkan bahwa terapi phage memiliki potensi nyata sebagai alternatif yang layak dalam melawan infeksi bakteri resisten antibiotik, dengan profil efektivitas dan keamanan yang menjanjikan. (4)

Adapun dari sisi keamanan, terapi phage umumnya dianggap aman bagi manusia karena phage tidak menargetkan sel manusia. Terdapat beberapa risiko potensial, seperti kemungkinan pelepasan endotoksin dari dinding sel bakteri yang dapat memicu respons inflamasi, terutama pada infeksi berskala besar, namun hal ini serupa dengan risiko yang ditimbulkan oleh antibiotik konvensional. (1)


Hambatan Menuju Penerapan Luas

Terlepas dari potensinya yang besar, penerapan phage therapy secara luas masih menghadapi sejumlah hambatan yang signifikan. Pertama, hambatan regulasi merupakan tantangan utama. Tidak seperti antibiotik, phage belum diakui sebagai obat (produk medis biologis) yang disetujui di sebagian besar negara. Regulasi yang ada umumnya dirancang untuk obat konvensional dengan formulasi tunggal, sementara phage bersifat sangat spesifik dan perlu disesuaikan untuk setiap pasien, karakteristik yang menyulitkan standardisasi dalam kerangka regulasi yang ada. (1)

Kedua, bakteri dapat mengembangkan resistensi terhadap phage, sebagaimana mereka mengembangkan resistensi terhadap antibiotik, meskipun bakteri yang resisten phage umumnya cenderung kurang virulen. Infeksi campuran yang kompleks memerlukan kombinasi berbagai phage, yang menambah kerumitan dalam formulasi dan produksi. (1)

Ketiga, tidak semua infeksi bakteri dapat ditangani dengan phage. Terkadang phage yang tepat tidak dapat ditemukan atau diperbanyak untuk semua jenis infeksi, dan phage yang ditemukan mungkin tidak memiliki sifat yang dibutuhkan untuk mengobati infeksi secara efektif. Keempat, bukti dari uji klinis yang kuat masih terbatas. Saat ini, phage terutama digunakan atas dasar compassionate use, yakni dalam situasi yang mengancam jiwa ketika semua pengobatan lain telah gagal. (1)


Perspektif WHO dan Situasi di Indonesia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui potensi besar terapi phage sekaligus menekankan perlunya kehati-hatian berbasis bukti. WHO/Europe secara aktif memimpin dialog ilmiah bersama Global Antimicrobial Resistance Research and Development Hub untuk menginvestigasi aplikasi praktis dan bukti-bukti yang mendukung penggunaan phage. Pendekatan ini sejalan dengan Peta Jalan AMR WHO/Europe 2023–2030, yang menetapkan visi bahwa pada tahun 2030, manusia dan hewan akan lebih aman dari infeksi resisten yang sulit diobati. WHO menegaskan bahwa adopsi terapi phage yang lebih luas membutuhkan bukti yang kuat untuk mendukung efektivitas, keamanan, dan kelayakannya di seluruh sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, pendekatan yang dikenal sebagai One Health. (5)

Di Indonesia, regulasi khusus mengenai penggunaan klinis bacteriophage untuk manusia belum tersedia secara eksplisit. Mengingat status globalnya yang masih dalam tahap pengembangan bukti dan belum disetujui sebagai produk medis biologis di sebagian besar negara maju, Indonesia perlu memperkuat kapasitas riset dan regulasi di bidang ini. Investasi dalam penelitian klinis phage therapy yang terstandarisasi, serta pengembangan kerangka regulasi yang mempertimbangkan karakteristik unik phage sebagai agen terapeutik biologis, merupakan langkah yang mendesak dan krusial. (6)


Kesimpulan

Resistensi antibiotik adalah krisis yang telah berlangsung sejak antibiotik pertama kali ditemukan dan terus eskalasi hingga kini, melampaui kapasitas inovasi farmasi konvensional dalam mengimbanginya. Bacteriophage menawarkan paradigma terapeutik yang secara biologis inovatif — memanfaatkan predator alami bakteri untuk mengatasi infeksi yang tidak lagi responsif terhadap antimikroba standar. Bukti klinis yang ada, meskipun masih dalam tahap akumulasi, menunjukkan efektivitas dan keamanan yang menjanjikan, terutama dalam penanganan infeksi bakteri multi-drug resistant.

Namun demikian, perjalanan menuju adopsi klinis yang luas masih panjang. Hambatan regulasi, keterbatasan standarisasi, dan kebutuhan akan uji klinis yang lebih robust merupakan tantangan yang harus diatasi secara sistematis. WHO telah menegaskan bahwa terapi phage berpotensi menjadi salah satu instrumen penting dalam respons global terhadap AMR, namun hal tersebut harus didasarkan pada fondasi bukti ilmiah yang kokoh. Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, momentum ini perlu dimanfaatkan untuk membangun ekosistem penelitian phage yang komprehensif, sehingga dapat mengambil bagian aktif dalam menjawab salah satu tantangan kesehatan terbesar abad ini.


Referensi

  1. World Health Organization Regional Office for Europe. Bacteriophages and their use in combating antimicrobial resistance [Internet]. Geneva: WHO; 2025 Feb 17 [cited 2026 Jun 8]. Available from: https://www.who.int/europe/news-room/fact-sheets/item/bacteriophages-and-their-use-in-combating-antimicrobial-resistance
  2. Lobanovska M, Pilla G. Penicillin's Discovery and Antibiotic Resistance: Lessons for the Future? Yale J Biol Med. 2017 Mar 29;90(1):135-145. PMID: 28356901; PMCID: PMC5369031.
  3. Nimmana BK, Nguyen AD. Antibiotic Resistance. [Updated 2026 Jan 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513277/
  4. Mehta T, Verma S, Khangura AK, Mahapatra N, Shrivastava K, Gupta S. Exploration of bacteriophage therapy as a viable alternative to combat antibiotic-resistant bacterial infections: A comprehensive in vitro and in vivo evaluation. Bioinformation. 2025 Jul 31;21(7):2176-2180. doi: 10.6026/973206300212176. PMID: 41170092; PMCID: PMC12569940.
  5. World Health Organization Regional Office for Europe. Building evidence for the use of bacteriophages against antimicrobial resistance [Internet]. Geneva: WHO; 2024 Jun 25 [cited 2026 Jun 8]. Available from: https://www.who.int/europe/news/item/25-06-2024-building-evidence-for-the-use-of-bacteriophages-against-antimicrobial-resistance
  6. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN dorong pengembangan riset bakteriofaga untuk atasi tantangan kesehatan di Indonesia [Internet]. Jakarta: BRIN; 2024 Aug 25 [cited 2026 Jun 8]. Available from: https://brin.go.id/news/120381/brin-dorong-pengembangan-riset-bakteriofaga-untuk-atasi-tantangan-kesehatan-di-indonesia



Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan