Berita
Anafilaksis pada Anak: Tinjauan Berdasarkan WAO White Book on Allergy 2026

Sebagian anak dapat mengalami reaksi alergi setelah terpapar suatu pencetus, dan sebagian di antaranya bermanifestasi jauh lebih berat dibandingkan reaksi alergi pada umumnya, bahkan berpotensi mengancam nyawa. Kondisi ini dikenal sebagai anafilaksis. Artikel ini membahas definisi, kriteria diagnostik, tata laksana, pertimbangan observasi/rawat inap, penyebab, pencegahan, serta arah mitigasi ke depan berdasarkan tinjauan terbaru World Allergy Organization (WAO) dalam WAO White Book on Allergy 2026.(1)
Definisi
WAO mendefinisikan anafilaksis sebagai reaksi hipersensitivitas sistemik yang serius, umumnya berlangsung cepat, dan dapat menyebabkan kematian. Anafilaksis berat ditandai oleh gangguan jalan napas, pernapasan, dan/atau sirkulasi yang mengancam nyawa, dan dapat terjadi tanpa disertai gejala kulit yang khas. Sel mast merupakan efektor utama, diaktivasi terutama melalui jalur IgE, dengan pelepasan mediator seperti triptase dan histamin. (1)
Kriteria Diagnostik
Diagnosis anafilaksis ditegakkan secara klinis, tanpa biomarker diagnostik spesifik, berdasarkan onset cepat dan keterlibatan gejala yang khas. Diagnosis pada anak kecil sering menantang karena keterbatasan kemampuan verbal untuk melaporkan gejala. (1) Anafilaksis sangat mungkin (highly likely) ditegakkan bila salah satu dari tiga kriteria berikut terpenuhi:
*Hipotensi didefinisikan sebagai penurunan TD sistolik >30% dari nilai baseline pasien, atau: bayi dan anak <10 tahun — TD sistolik < (70 mmHg + [2 × usia dalam tahun]); dewasa — TD sistolik <90 mmHg. (1)
Gejala laring mencakup stridor, perubahan suara, dan odinofagia. (1)
Tata Laksana
Epinefrin intramuskular di paha lateral tetap menjadi terapi lini pertama, dengan dosis 0,01 mg/kg berat badan (maksimal 0,5 mg), dapat diulang setiap 5–10 menit bila gejala menetap. Epinefrin intranasal kini muncul sebagai alternatif tanpa jarum dengan kadar plasma dan efek kardiovaskular yang sebanding. Pasien perlu diposisikan berbaring dengan tungkai ditinggikan, atau semirekumben bila terdapat gangguan napas. Terapi lini kedua meliputi cairan intravena, oksigen, dan bronkodilator inhalasi bila terjadi bronkospasme. Antihistamin dan kortikosteroid dapat meredakan sebagian gejala namun tidak menggantikan epinefrin dan tidak boleh menunda pemberiannya. Pasien dengan respons tidak adekuat, terutama yang menggunakan beta-bloker, dapat dipertimbangkan pemberian glukagon. (1)
Pertimbangan Observasi dan Rawat Inap
Meski dokumen ini tidak merinci kriteria numerik rawat inap, prinsip kehati-hatian klinis tetap berlaku: anak yang memerlukan epinefrin berulang, menunjukkan respons tidak lengkap terhadap terapi awal, atau mengalami gangguan jalan napas/sirkulasi berat sebaiknya menjalani observasi lanjutan di fasilitas kesehatan dengan kemampuan resusitasi. (1)
Penyebab
Tiga pencetus utama anafilaksis adalah makanan, obat, dan sengatan serangga. Pada anak, makanan—terutama susu sapi, kacang tanah, dan kacang pohon—merupakan pencetus tersering, sedangkan obat (antibiotik beta-laktam, NSAID) lebih dominan pada dewasa. Insiden anafilaksis global diperkirakan meningkat sekitar 7,4% per tahun, meski angka fatalitas relatif stabil. (1)
Pencegahan
Pencegahan berjangka panjang menitikberatkan pada identifikasi pencetus melalui anamnesis terstruktur, uji IgE spesifik, uji kulit, atau uji provokasi; namun hingga 10% kasus tetap idiopatik setelah evaluasi menyeluruh. Pasien berisiko memerlukan rencana aksi tertulis dan akses terhadap epinefrin swaguna, meski ketersediaan alat autoinjektor masih sangat terbatas di banyak kawasan Asia. Faktor kofaktor seperti olahraga, infeksi, kurang tidur, dan konsumsi NSAID perlu dievaluasi karena dapat memperberat reaksi. (1)
Mitigasi untuk Ke Depan
WAO mengidentifikasi sejumlah kebutuhan yang belum terpenuhi, meliputi ketersediaan global alat epinefrin swaguna, definisi dan kriteria klinis yang seragam, sistem skoring keparahan yang terstandardisasi, edukasi tenaga kesehatan dan masyarakat, serta integrasi teknologi digital dalam tata laksana anafilaksis. (1)
Kesimpulan dan Penutup
Anafilaksis merupakan kegawatdaruratan alergi yang memerlukan kewaspadaan klinis tinggi, mengingat presentasinya dapat bervariasi dan tidak selalu disertai gejala kulit. Pengenalan dini berdasarkan kriteria klinis serta pemberian epinefrin intramuskular segera tetap menjadi kunci utama keselamatan pasien anak. Dokter anak di Indonesia perlu memahami kerangka diagnostik dan tata laksana terbaru ini agar dapat memberikan penanganan yang tepat waktu, sekaligus mendukung upaya pencegahan berkelanjutan melalui edukasi keluarga dan optimalisasi akses terhadap epinefrin swaguna.
Daftar Pustaka
Cardona V. Overview of allergic disease: Anaphylaxis – WAO White Book on Allergy 2026 – 2.11. World Allergy Organ J. 2026;19(3):101338.

