Berita
Alur Basic Life Support untuk Penolong Awam pada Anak

Latar Belakang
Henti jantung pada anak, walaupun etiologinya cenderung berbeda dari orang dewasa, tetap merupakan kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi dan mengancam nyawa. Kemampuan melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dasar merupakan keterampilan penting yang idealnya dimiliki tidak hanya oleh tenaga kesehatan, tetapi juga oleh orang dewasa awam dan bahkan anak yang lebih besar, mengingat RJP yang dilakukan segera oleh penolong pertama (bystander) terbukti meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien henti jantung. (1) Meskipun demikian, data registri di Amerika Utara menunjukkan hanya sekitar separuh (50,2%) anak usia 0–19 tahun yang mengalami henti jantung di luar rumah sakit menerima RJP dari penolong awam. (2) Kesenjangan ini membuka peluang penting bagi dokter anak untuk berperan aktif mengedukasi orang tua dan anggota keluarga di rumah mengenai keterampilan BLS dasar, sehingga mereka siap bertindak cepat dan tepat apabila suatu saat dihadapkan pada situasi kegawatdaruratan yang mengancam nyawa anak.
Etiologi Henti Jantung pada Anak
Berbeda dengan orang dewasa yang henti jantungnya predominan disebabkan oleh proses kardiak primer, henti jantung pada anak sebagian besar bersifat asfiksia, yakni didahului oleh gangguan napas seperti obstruksi jalan napas, tenggelam, trauma, sindrom kematian bayi mendadak, atau gagal napas akibat penyakit respirasi berat. (1) Kondisi hipoksia yang berlangsung progresif inilah yang pada akhirnya mengarah pada henti jantung sekunder pada anak, berbeda dengan mekanisme aritmia primer seperti fibrilasi ventrikel yang lebih sering menjadi penyebab pada populasi dewasa. Karakteristik etiologi ini menjadi dasar mengapa ventilasi memegang peran yang lebih penting dalam resusitasi anak dibandingkan pada dewasa, dan menjadi pembeda utama dalam pendekatan BLS pada kedua kelompok usia tersebut.
Alur Basic Life Support untuk Penolong Awam
Alur BLS yang perlu diketahui dan diajarkan kepada penolong awam pada kasus kegawatdaruratan anak adalah sebagai berikut:
- Pastikan keamanan lokasi kejadian
- Nilai respons anak dan periksa pernapasan secara bersamaan tanpa menunda; bila anak tidak merespons dan tidak bernapas normal atau hanya megap-megap (gasping), anggap anak mengalami henti jantung.
- Segera minta bantuan dengan mengaktivasi layanan gawat darurat dan meminta orang lain mengambil automated external defibrillator (AED) bila tersedia, sambil tetap mendampingi anak.
- Mulai kompresi dada tanpa menunda. Penolong awam tidak dianjurkan memeriksa nadi karena akurasi perabaan nadi yang rendah dapat menunda dimulainya kompresi; hal ini berbeda dengan tenaga kesehatan yang dianjurkan memeriksa nadi brakialis atau femoralis dalam waktu tidak lebih dari 10 detik sebelum memutuskan untuk memulai kompresi.
- Berikan kompresi dan bantuan napas dengan rasio 30:2 untuk satu penolong. Berbeda dengan alur dewasa yang bagi awam dianjurkan hands-only CPR (kompresi saja), pada anak tetap dianjurkan memberikan bantuan napas apabila penolong mampu dan bersedia, mengingat penyebab utama henti jantung pada anak umumnya adalah proses asfiksia akibat gangguan napas, sehingga ventilasi turut berkontribusi penting terhadap keberhasilan resusitasi. (1) Meski demikian, bila penolong tidak terlatih atau enggan memberikan napas buatan, kompresi dada tetap harus segera dimulai dan dilanjutkan tanpa henti, karena kompresi dada yang segera tetap lebih baik dibandingkan tidak melakukan tindakan apa pun.
- Lanjutkan siklus kompresi dan napas hingga AED tersedia dan siap digunakan, anak menunjukkan tanda kehidupan, atau bantuan medis profesional tiba di lokasi.
Teknik Kompresi Dada Sesuai Usia
Teknik kompresi dada pada anak disesuaikan dengan usia dan ukuran tubuh, mengingat perbedaan anatomi toraks pada tiap kelompok usia. Pada bayi (usia kurang dari satu tahun), teknik yang dianjurkan adalah two-thumb encircling hands, yaitu kedua ibu jari diletakkan berdampingan pada pertengahan bawah sternum sementara kedua tangan melingkari toraks bayi untuk menopang punggung. Jika teknik two-thumb encircling tidak bisa dipakai, teknik satu tangan bisa dipakai. Teknik dua jari tidak lagi dianjurkan karena dinilai tidak efektif untuk mencapai kedalaman kompresi yang adekuat dan konsisten. (1)
Untuk anak di atas 1 tahun hingga pubertas, kompresi dilakukan dengan dua tangan layaknya pada orang dewasa. Dalam konteks pelatihan BLS dari panduan AHA, anak dianggap sudah pubertas jika sudah mengalami perkembangan payudara pada perempuan atau sudah mengalami pertumbuhan bulu ketiak bagi laki-laki
Gambar 1. Teknik kompresi dada dalam resusitasi jantung paru pada bayi, (A) Teknik dua jari, tidak lagi direkomendasikan, (B) Teknik two thumbs encircling hands, direkomendasikan, (C ) One-hand technique, atau teknik satu tangan, direkomendasikan pada bayi jika two thumbs encircling hands tidak memungkinkan.
Kriteria Resusitasi Jantung Paru Berkualitas Tinggi
Selain teknik yang tepat, dokter anak juga perlu menekankan pentingnya kualitas kompresi dalam edukasi kepada penolong awam. Kriteria RJP berkualitas tinggi (high-quality CPR) meliputi kecepatan kompresi 100–120 kali per menit, kedalaman kompresi sekitar sepertiga diameter anteroposterior dada, memberikan kesempatan recoil dada penuh setelah setiap kompresi agar jantung dapat terisi optimal sebelum kompresi berikutnya, meminimalkan interupsi selama kompresi, serta menghindari ventilasi yang berlebihan baik dari segi volume maupun kecepatan pemberian napas. (1) Kombinasi elemen-elemen tersebut telah terbukti berasosiasi dengan perbaikan luaran neurologis dan kelangsungan hidup pada pasien anak yang mengalami henti jantung di luar rumah sakit.
Kesimpulan dan Penutup
Henti jantung pada anak memiliki karakteristik dan etiologi yang berbeda dari dewasa, sehingga alur BLS yang diterapkan pun disesuaikan, khususnya terkait pentingnya bantuan napas dan teknik kompresi berdasarkan usia. Dokter anak memiliki posisi strategis untuk mendiseminasikan pengetahuan RJP dasar sesuai guideline AHA/AAP terbaru kepada keluarga pasien, mengingat kesenjangan yang masih besar antara jumlah kejadian henti jantung dan penolong awam yang benar-benar siap bertindak. (2) Edukasi yang konsisten dan berkelanjutan, baik melalui konsultasi rutin maupun pelatihan singkat di ruang praktik, diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan angka kelangsungan hidup anak yang mengalami henti jantung.
Referensi
- Joyner BL Jr, Dewan M, Bavare A, de Caen A, DiMaria K, Donofrio-Odmann J, et al. Part 6: Pediatric Basic Life Support: 2025 American Heart Association and American Academy of Pediatrics Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2025;152(Suppl 2):S424–S447.
- Dainty KN, Colquitt B, Bhanji F, Hunt EA, Jefkins T, Leary M, et al. Understanding the Importance of the Lay Responder Experience in Out-of-Hospital Cardiac Arrest: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2022;145(17):e852–e867.

